-->

Harga Mobil Listrik Tidak Terjangkau, Ekosistem Industri Ini Butuh Stimulus

Lambat tapi pasti, era kendaraan elektrifikasi akan menjadi mandatori, akan tetapi, sekarang ini butuh stimulasi.

harga mobil listrik indonesia
Perbandingan harga mobil listrik dengan mobil konvensional di Indonesia

Otojatim.com - Melalui Perpres No. 55 Tahun 2019, tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) untuk Transportasi Jalan telah ditetapkan.

Hal ini mendesak karena kendaraan bermotor konvensional, adalah penyumbang emisi terbesar pada lingkungan. Selain itu, dengan mengganti ekosistem kendaraan motor bakar menjadi BEV, berpotensi mengurangi kebutuhan BBM 1,6 juta barel per hari, di mana separuhnya negara kita masih mengimpor.

Hal itu seperti dikatakan Dr Ir Riyanto MSi, peneliti senior LPEM-FEB UI dalam Diskusi Virtual Industri Otomotif bertema Peluang dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia, yang digelar atas kolaborasi FORWOT dan FORWIN (Kamis 26-11-2020).

"Indonesia mempunyai cadangan nikel yang melimpah untuk produksi baterai kendaraan listrik. Industri ini akan menjadi bagian dari global value chain," ungkap Riyanto dalam paparan presentasinya.

Menurutnya, dengan mengurangi impor BBM akan memberikan dampak pada ketahanan energi dan mengurangi tekanan neraca perdagangan.

Baca: Menopang 10% Sektor Ekonomi, Kemenperin Cari Celah untuk Gairahkan Pasar Otomotif. Salah Satunya Keringanan Pajak

Namun bukan berarti implementasi ekosistem kendaraan listrik ini berjalan tanpa tantangan. Baik dari sisi konsumen, pabrikan maupun stakeholder dalam hal ini pemerintah, masing-masing mempunyai problem yang harus ditemukan solusinya.

Dari sisi konsumen, TCO yang lebih besar daripada mobil konvensional masih menjadi ganjalan utama.

TCO atau Total Cost of Ownership, adalah keseluruhan biaya kepemilikan, mulai dari harga beli, operasional dan perawatan dalam jangka waktu tertentu. Ternyata masih lebih murah menggunakan mobil non-listrik.

Sebagai contoh, BEV termurah saat ini yang baru saja diluncurkan oleh Hyundai dengan mengusung dua varian sekaligus, yaitu Ioniq dan Kona EV. Masih di kisaran Rp600 juta ke atas. Range harga tersebut terjangkau hanya di kalangan atas. Selevel dengan CR-V dan Fortuner, kalangan menengah ke atas pun akan berpikir jauh sebelum membeli mobil listrik yang masih mahal.

Dalam paparan Riyanto, dia mengambil contoh harga rata-rata MPV di Indonesia pada kisaran Rp300 juta. Setelah dilakukan penghitungan simulasi, ketemu harga maksimum yang mampu dijangkau masyarakat untuk membeli mobil listrik adalah Rp327-Rp332 juta.

Lantas dikaitkan dengan prediksi harga rata-rata mobil listrik di 2025 dengan angka Rp543 juta. Setelah mendapat insentif pajak berupa bebas PpnBM, bebas BBNKB dan pengurangan pajak masuk, harganya menjadi Rp407 juta.

harga mobil listrik murah
Materi presentasi Dr Ir Riyanto MSi

"Masih perlu tambahan insentif sebesar Rp80 juta supaya bisa terserap pasar dengan harga Rp327juta atau dibawahnya. Andaikata hanya 10% saja orang yang mampu dan mau membeli, maka insentifnya cukup Rp75 juta. Masyarakat akan membelinya di harga Rp332 juta," jelasnya.

Dr. Hari Setiapraja, ST, MEng. Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menambahkan bahwa kendala lain dalam penerapan kendaraan listrik adalah ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaran Listrik Umum (SPKLU).

"Sama seperti kendaraan ICE (Internal Combustion Engine), makin besar muatan, ukuran dan beban kendaraan, konsumsi energi listriknya juga makin banyak," ujar Hari.

Dalam presentasinya, Hari memaparkan perbandingan konsumsi energi listrik yang dibutuhkan oleh kendaraan listrik kecil yang diwakili Mitsubishi i-Miev, kelas menengah dicontohkan dengan Tesla Model X, dan kendaraan besar MAB BEV Bus.

konsumsi energi mobillistrik
Materi presentasi Dr. Hari Setiapraja, ST, MEng

"Secara efisiensi memang bagus sekali, mampu menekan cost hingga 50%. Tapi untuk operasional harian dibutuhkan kepastian ketersediaan charging station yang memadai, teknologi baterai yang tahan lama, hemat dan fast charging," kata Hari.

"Untuk penggunaan bus jarak jauh sepertinya kurang cocok," tambahnya.

Hal ini diamini Riyanto.

"Untuk perjalanan jauh, pulang kampung, mungkin saya akan lebih memilih mobil listrik dengan teknologi Hybrid. Jadi tidak khawatir bingung mau ngecas di mana. Tetap masih bisa diisi bensin," kelakar Riyanto, sambil menunjukkan slide contoh mobil Tesla yang dicas menggunakan genset mini berbahan bakar bensin.

portable charging electric car
Mobil listrik terpaksa dicas menggunakan genset ketika tidak menemukan stasiun pengisian baterai

Yang menjadi problem di sini adalah, pemerintah hanya memberikan subsidi pada BEV (Battery Electric Vehicle). Sedangkan HEV (Hybrid Electric Vehicle) maupun PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) tidak disubsidi, karena masih menggotong mesin motor bakar (ICE), meskipun hanya digunakan sebagai pengisi listrik. Jadi tetap terkena dua pajak.

Riset Kemenhub Inggris 2016, menyatakan masyarakat menghindari membeli EV dikarenakan dua alasan utama yaitu ketersediaan stasiun pengisian, berbanding dengan jarak tempuh yang terjamin dengan stasiun pengisian.

alasan tidak membeli mobil listrik
Materi presentasi Dr. Hari Setiapraja, ST, MEng

Era tahun 2008 sejumlah pabrikan di Tanah Air sebenarnya memulai berkontribusi terhadap kepedulian lingkungan dengan menjual mobil bertenaga baterai. Namun masih belum dianggap. Seperti Toyota Prius Hybrid ataupun Mitsubishi i-Miev.

Kini di 2020, pemain mobil listrik makin berkembang seiring dengan kejelasan regulasi yang dibuat pemerintah. Sejumlah subsidi pun ditawarkan kepada pabrikan dan konsumen, mengingat peta jalan mobil listrik yang dicanangkan pemerintah harus benar-benar terealisasi.

LihatTutupKomentar