Hati-hati, Mudik 2022 Lebih Berbahaya Dibanding Tahun-tahun Sebelumnya

kecelakaan mudik 2022

Jakarta, Otojatim.com - Momen mudik tahun 2022 mungkin lebih berbahaya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat setidaknya dari dua hal, yaitu adanya larangan mudik selama dua kali lebaran pada tahun 2020, 2021 dan meningkatnya jumlah pemudik.

Hal tersebut dikatakan oleh praktisi Keselamatan Jalan dari Politeknik APP Jakarta, Adrianto Sugiarto Wiyono.

"Dengan adanya larangan mudik selama dua tahun maka akan muncul kondisi menumpuknya rindu kepada kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Hal ini tentu akan mempengaruhi cara mengemudi di jalan menuju kampung halaman. Selain itu naiknya jumlah kendaraan mudik juga dapat mempengaruhi lingkungan mengemudi," ujar pria yang akrab disapa Rian ini.

Adenosin, Senyawa Penyebab Microsleep dan Bagaimana Mengatasinya

Sebagaimana disampaikan oleh Jasa Marga bahwa jika tahun 2019 saja pada H-1 lebaran jumlah kendaraan yang meninggalkan Jabodetabek menuju berbagai daerah mencapai 1,2 juta sedangkan pada musim mudik tahun 2022 kali ini pada H-3 lebaran sudah mencapai 1,3 juta kendaraan.

Sedangkan angka kecelakaan arus mudik yang dirilis Polri per tanggal 1 Mei 2022 sebanyak 279 peristiwa dengan jumlah korban meninggal 39 orang.

Orang Kalem Bisa Berubah Menjadi Hulk Bila Terpancing Emosi di Jalan

Lebih lanjut Rian menambahkan bahwa ketika menyetir, pengemudi akan mengalami proses PIEV (Perception-Identification-Emotion-Volitional), yang penjabarannya sebagai berikur:
  1. Persepsi adalah kemampuan pengemudi dalam menerima informasi melalui panca indra, seperti jarak, ruang, kelajuan kendaraan, dsb.
  2. Setelah menerima informasi maka selanjutnya adalah mengidentifikasi muatan informasi tersebut misalnya cukup tidaknya jarak, ruang, dan kelajuan kendaraan untuk mendahului kendaraan lain.
  3. Informasi dan identifikasi tersebut diproses sesuai emosi pengemudi terlepas emosi positif (senang, bahagia, dsb.) atau negatif (marah, kesal, dsb).
  4. Volitional atau reaksi adalah tindakan setelah pengambilan keputusan dari kondisi di jalan.


Pengalaman PIEV akan berbeda-beda bagi setiap orang, dipengaruhi oleh berbagai kondisi seperti usia, lingkungan mengemudi, tekanan, dan sebagainya.

"Nafsu ingin segera tiba ke kampung halaman, dan membayangkan kesenangan bertemu keluarga akan dapat membuat pengemudi bereaksi berbeda dibandingkan dalam kondisi normal, hal inilah yang menjadikan meningkatnya risiko terlibat kecelakaan lalu lintas," tandas Rian.

Fitur Cerdas Peugeot, Aktif Mencegah Sopir Keluar Lajur Dan Marka

Sebagai contoh, karena ingin segera sampai, maka mengabaikan kondisi lelah, dan memaksa untuk lanjut mengemudi tanpa istirahat cukup sehingga persepsi akan ruang, jarak, dan kecepatan dapat berubah dan mengarah kepada kecelakaan yang seharusnya dapat dihindari.

Akhirnya, jika terlibat kecelakaan tentu tidak hanya pengemudi yang akan menderita namun juga seluruh penumpang dalam kendaraan tersebut. Bukan hanya sekadar cedera, namun dapat sampai pada hilangnya nyawa.

All New Honda BR-V Aman Melaju Tanpa Injak Gas dan Rem

Maka untuk pencegahan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Adrianto Sugiarto Wiyono, praktisi Keselamatan Jalan dari Politeknik APP Jakarta memberikan tips sebagai berikut:
  1. Pahami kondisi diri dan kondisi lingkungan sehingga dapat menyusun sebuah rencana perjalanan yang baik.
  2. Rencanakan tempat dan waktu istirahat baik perjalanan arus mudik maupun arus balik ini.
  3. Tidak mudah emosi dan terpancing dengan ulah pengemudi lain yang ugal-ugalan.
  4. Terapkan defensive driving, yaitu kuasai teknik mengemudi yang benar dan menghindari segala risiko penyebab terjadinya kecelakaan.
  5. Patuhi peraturan lalu-lintas.
LihatTutupKomentar
close
cicilan yamaha dp 0