OTOJATIM - Sistem penilaian independen untuk rating keselamatan jalan sebuah produk, resmi diperkenalkan di Indonesia. Indonesian Road Safety Rating hadir lewat soft launching pada 1 April 2026 di Jakarta, akan menguji kualitas dan tingkat keamanan produk secara terukur sebelum sampai ke tangan konsumen.
“Indonesian Road Safety Rating dibentuk untuk menjadi panduan bagi masyarakat dalam memilih produk berkeselamatan serta mendorong manufaktur untuk menciptakan produk yang semakin berkeselamatan sesuai dengan keinginan konsumen. Kami ingin memastikan bahwa setiap produk yang diklaim ‘berkeselamatan’ memang memiliki bukti penilaian yang objektif,” ujar Adrianto Sugiarto Wiyono selaku inisiator.
Konsep yang diusung bukan hal baru di tingkat global. Sistem rating keselamatan sudah lebih dulu dikenal melalui NCAP untuk mobil dan iRAP untuk jalan. Namun, celah besar masih terlihat pada kendaraan roda dua dan perangkat pendukungnya, yang justru banyak digunakan di Indonesia.
Dari materi presentasi yang dibawakan Adrianto, terlihat jelas latar belakang lahirnya program ini. Data kawasan Asia Tenggara menunjukkan angka korban kecelakaan lalu lintas masih tinggi, dengan Indonesia berada di posisi signifikan dalam jumlah kejadian setiap tahun.
Masalahnya tidak sederhana. Populasi sepeda motor yang masif, perilaku pengguna jalan, hingga faktor teknologi saling berkelindan. Dalam konteks ini, pendekatan berbasis produk menjadi salah satu titik masuk yang dinilai efektif. Teknologi dinilai bisa ikut memengaruhi perilaku berkendara.
Indonesian Road Safety Rating berdiri sebagai third party evaluation atau penilai independen. Sistem ini tidak berada di sisi produsen maupun regulator, melainkan di tengah sebagai penyedia informasi bagi konsumen. Tujuannya jelas: mendorong pasar bergerak lewat pilihan konsumen.
Pada tahap awal, dua program langsung dijalankan. ID CamScore menyasar dashcam yang kini semakin populer. Penilaian dilakukan dari fitur dasar seperti resolusi dan frame rate, hingga fitur lanjutan seperti GPS, WiFi, dan ADAS seperti peringatan tabrakan depan dan peringatan keluar jalur.
Program kedua adalah ID MAP yang fokus pada sepeda motor. Penilaian mencakup fitur keselamatan seperti sistem pengereman, lampu, hingga visibilitas kendaraan. Selain itu, aspek kesesuaian dengan regulasi internasional juga masuk dalam parameter penilaian.
Rian menegaskan bahwa pendekatan regional menjadi pembeda penting dalam sistem ini. Produk yang terlihat sama di pasar ternyata bisa memiliki spesifikasi berbeda antar negara.
“Program rating yang bersifat regional akan dapat menangkap kebutuhan keselamatan jalan sesuai dengan region itu sendiri, misalnya dashcam atau sepeda motor yang dijual di Indonesia dan Malaysia meskipun modelnya sama namun spesifikasi dapat berbeda,” jelasnya.
Ia juga menyebut arah pengembangan ke depan tidak berhenti di dalam negeri.
“Ini merupakan salah satu langkah untuk membuat kendaraan dan berbagai produk pendukungnya berkeselamatan di tingkat lokal pada awalnya dan semakin berkeselamatan di wilayah Asia Tenggara,” lanjutnya.
Dalam paparannya, Adrianto juga menyinggung perbedaan mendasar antara regulasi dan program rating. Regulasi menetapkan standar minimum yang wajib dipenuhi semua kendaraan. Sementara rating seperti NCAP berada di level di atasnya, bersifat sukarela, dan memberi informasi tambahan kepada konsumen tentang tingkat keselamatan yang lebih tinggi.
Efeknya tidak main-main. Studi internasional menunjukkan kendaraan dengan rating bintang tinggi memiliki risiko fatalitas jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan dengan rating rendah. Bahkan peningkatan skor perlindungan pejalan kaki berdampak langsung pada penurunan angka kematian.
Indonesian Road Safety Rating dikembangkan oleh PT Karya Fajar Ultima (KyFU) dengan mengacu pada protokol MIROS. Program ini juga berkaitan dengan Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan 2021–2030 serta perlindungan konsumen melalui informasi yang jelas.
Dengan sistem ini, konsumen kini tidak lagi bergantung pada klaim sepihak. Ada parameter, ada pengujian, dan ada hasil yang bisa dijadikan dasar sebelum memilih produk keselamatan.
![]() |
| Adrianto Sugiarto Wiyono memaparkan konsep Indonesian Road Safety Rating dalam forum diskusi keselamatan jalan |
Konsep yang diusung bukan hal baru di tingkat global. Sistem rating keselamatan sudah lebih dulu dikenal melalui NCAP untuk mobil dan iRAP untuk jalan. Namun, celah besar masih terlihat pada kendaraan roda dua dan perangkat pendukungnya, yang justru banyak digunakan di Indonesia.
![]() |
| Logo resmi Indonesia Road Safety Rating |
Masalahnya tidak sederhana. Populasi sepeda motor yang masif, perilaku pengguna jalan, hingga faktor teknologi saling berkelindan. Dalam konteks ini, pendekatan berbasis produk menjadi salah satu titik masuk yang dinilai efektif. Teknologi dinilai bisa ikut memengaruhi perilaku berkendara.
Indonesian Road Safety Rating berdiri sebagai third party evaluation atau penilai independen. Sistem ini tidak berada di sisi produsen maupun regulator, melainkan di tengah sebagai penyedia informasi bagi konsumen. Tujuannya jelas: mendorong pasar bergerak lewat pilihan konsumen.
![]() |
| Persiapan menguji piranti ABS pada sepeda motor (Foto: dok KyFU) |
Program kedua adalah ID MAP yang fokus pada sepeda motor. Penilaian mencakup fitur keselamatan seperti sistem pengereman, lampu, hingga visibilitas kendaraan. Selain itu, aspek kesesuaian dengan regulasi internasional juga masuk dalam parameter penilaian.
Rian menegaskan bahwa pendekatan regional menjadi pembeda penting dalam sistem ini. Produk yang terlihat sama di pasar ternyata bisa memiliki spesifikasi berbeda antar negara.
![]() |
| Persiapan pengujian piranti ABS sepeda motor |
Ia juga menyebut arah pengembangan ke depan tidak berhenti di dalam negeri.
“Ini merupakan salah satu langkah untuk membuat kendaraan dan berbagai produk pendukungnya berkeselamatan di tingkat lokal pada awalnya dan semakin berkeselamatan di wilayah Asia Tenggara,” lanjutnya.
Dalam paparannya, Adrianto juga menyinggung perbedaan mendasar antara regulasi dan program rating. Regulasi menetapkan standar minimum yang wajib dipenuhi semua kendaraan. Sementara rating seperti NCAP berada di level di atasnya, bersifat sukarela, dan memberi informasi tambahan kepada konsumen tentang tingkat keselamatan yang lebih tinggi.
![]() |
| Salah satu metode pengetesan ABS motor di jalan basah |
Indonesian Road Safety Rating dikembangkan oleh PT Karya Fajar Ultima (KyFU) dengan mengacu pada protokol MIROS. Program ini juga berkaitan dengan Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan 2021–2030 serta perlindungan konsumen melalui informasi yang jelas.
Dengan sistem ini, konsumen kini tidak lagi bergantung pada klaim sepihak. Ada parameter, ada pengujian, dan ada hasil yang bisa dijadikan dasar sebelum memilih produk keselamatan.








