OTOJATIM – Pendidikan vokasi sering diuji lewat satu hal sederhana: seberapa siap lulusannya saat berhadapan langsung dengan konsumen. Di Jawa Timur, jawaban itu kini hadir lewat operasional AHASS Teaching Factory (TEFA) di SMK binaan PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM Honda Jatim). Bukan sekadar ruang praktik, melainkan bengkel aktif yang benar-benar melayani sepeda motor Honda milik masyarakat.
![]() |
| Aktivitas servis sepeda motor Honda oleh siswa SMK binaan MPM Honda Jatim di AHASS Teaching Factory berstandar industri. |
AHASS TEFA hanya ditempatkan di SMK mitra Honda dengan grade A+ serta ditetapkan sebagai Tempat Uji Kompetensi. Di dalamnya, fasilitas dibuat menyerupai bengkel resmi Honda. Ruang tunggu konsumen tersedia, minimal dua pit servis aktif, hingga perlengkapan kerja sesuai standar industri. Atmosfernya bukan kelas simulasi, melainkan denyut bengkel yang hidup setiap hari.
Yang membuat program ini berbeda ada pada pelakunya. Seluruh layanan purna jual dijalankan oleh siswa SMK. Mereka menangani perawatan berkala, penggantian oli, sampai penggantian suku cadang. Semua proses berada dalam pengawasan langsung mekanik profesional AHASS. Dengan pola ini, konsumen tetap memperoleh layanan sesuai standar Honda, sementara siswa berhadapan langsung dengan ritme kerja nyata.
Skema tersebut menciptakan ruang belajar yang jujur. Kesalahan teknis langsung menjadi evaluasi. Ketepatan waktu, kerapian kerja, serta cara berkomunikasi dengan pelanggan menjadi bagian dari penilaian harian. Di titik inilah pendidikan vokasi menunjukkan wajah aslinya, jauh dari sekadar teori di ruang kelas.
“Program AHASS TEFA menjadi bentuk nyata komitmen kami dalam menghadirkan ekosistem vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri. Melalui sinergi bagi negeri ini, siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga merasakan langsung praktik kerja di bengkel berstandar industri, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi konsumen,” ujar M. Bondan Priyoadi, Technical Service Division Head MPM Honda Jatim.
Pengalaman tersebut memberi dampak ganda. Bagi siswa, AHASS TEFA menanamkan etos kerja, disiplin, serta pemahaman layanan pelanggan sejak dini. Bagi konsumen, bengkel sekolah tidak lagi dipandang sebelah mata karena prosesnya berjalan dengan standar resmi Honda. Dua kepentingan ini bertemu dalam satu ruang yang sama.
Keberadaan AHASS TEFA juga memperlihatkan wajah baru SMK binaan Honda. Sekolah tidak lagi terpisah dari denyut industri. Jam praktik menyatu dengan jam layanan. Target kompetensi berjalan seiring dengan kepuasan pelanggan. Model ini membuat lulusan SMK lebih siap memasuki dunia kerja, bahkan membuka peluang usaha mandiri di sektor otomotif.
Di tengah kebutuhan industri akan tenaga terampil, pola teaching factory seperti AHASS TEFA memberi sinyal kuat. Pendidikan vokasi mampu bergerak cepat bila ruang praktik dibuka selebar mungkin dan diikat dengan standar industri. Jawa Timur kini memiliki contoh konkret bagaimana bengkel sekolah bisa menjadi tempat belajar sekaligus tempat melayani masyarakat.




