OTOJATIM – Ketika membeli mobil atau sepeda motor, konsumen biasanya mempertimbangkan harga, performa, desain, konsumsi bahan bakar, fitur hingga nilai jual kembali. Keselamatan juga menjadi salah satu pertimbangan, tetapi ada satu persoalan yang tidak mudah dijawab hanya melalui brosur kendaraan.
Seberapa aman kendaraan tersebut ketika menghadapi kondisi berbahaya di jalan?
Persoalan itu dibahas Adrianto S. Wiyono, Perwakilan Indonesian Road Safety Rating (IDRS) sekaligus dosen Politeknik APP, melalui materi Safety Rating for Automotive Consumerism dalam MOVEINDO Symposium 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Dalam paparannya, Adrianto menunjukkan bahwa konsumen dapat melihat berbagai fitur yang ditawarkan kendaraan. Namun, kemampuan keselamatan kendaraan tidak selalu terlihat secara langsung.
“Kita bisa melihat fitur, tetapi kita tidak bisa melihat keselamatannya.”
Pertanyaan berikutnya pun menjadi lebih penting, yakni seberapa aman kendaraan tersebut ketika digunakan dalam kondisi sebenarnya.
Tenaga mesin, konsumsi bahan bakar, desain, ukuran layar maupun konektivitas relatif mudah dilihat dan dibandingkan. Sebaliknya, kemampuan kendaraan melindungi penumpang saat kecelakaan, performa pengereman dalam kondisi darurat, efektivitas pengendalian stabilitas hingga kemampuan menghindari kecelakaan membutuhkan pengujian untuk dapat diketahui.
Dari Daftar Fitur ke Performa Keselamatan
Karena itu, cara konsumen menilai keselamatan kendaraan perlu berubah.
Adrianto menggambarkan perubahan tersebut sebagai pergeseran dari daftar periksa fitur keselamatan menuju penilaian berbasis performa keselamatan.
Konsumen tidak cukup berhenti pada pertanyaan apakah kendaraan memiliki ABS.
“Apakah kendaraan memiliki ABS?”
Pertanyaan tersebut perlu dilanjutkan dengan bagaimana kinerja sistem itu ketika kendaraan harus melakukan pengereman darurat.
“Bagaimana kinerjanya ketika melakukan pengereman darurat?”
Hal serupa berlaku pada kantong udara. Keberadaan perangkat tersebut menjadi informasi awal, sedangkan kemampuan melindungi penumpang ketika terjadi kecelakaan menjadi persoalan berikutnya.
“Seberapa baik sistem tersebut melindungi penumpang ketika terjadi kecelakaan?”
Sementara pada teknologi bantuan pengemudi, pertanyaannya bukan hanya apakah kendaraan telah memiliki teknologi tersebut, tetapi seberapa efektif sistem itu membantu mengurangi risiko tabrakan.
“Seberapa efektif teknologi tersebut mengurangi risiko kecelakaan?”
Perubahan cara pandang dari sekadar melihat fitur menuju menilai performa keselamatan inilah yang menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai rating keselamatan kendaraan, kata Adrianto.
Dengan pendekatan tersebut, keselamatan tidak lagi hanya menjadi daftar fitur dalam brosur. Performa teknologi ketika digunakan menjadi bagian penting dari informasi yang perlu diketahui konsumen.
Kesenjangan Informasi Jadi Persoalan Konsumen
Persoalan berikutnya adalah informasi keselamatan yang diterima konsumen.
Produsen dan regulator memiliki data teknis, hasil pengujian laboratorium serta hasil pengujian rekayasa kendaraan. Sementara konsumen menghadapi informasi yang lebih terfragmentasi dan tidak selalu mudah dibandingkan. Kondisi ini digambarkan sebagai kesenjangan asimetri informasi.
Akibatnya, calon pembeli bisa mengetahui sebuah mobil memiliki ABS, airbag atau teknologi bantuan pengemudi, tetapi belum tentu mendapatkan gambaran yang jelas mengenai performa keselamatan kendaraan secara keseluruhan.
Padahal, informasi tersebut penting ketika konsumen harus membandingkan beberapa kendaraan sebelum membeli.
“Informasi keselamatan yang diterima konsumen harus bisa membantu mereka membandingkan kendaraan,” ucap Adrianto dalam paparannya.
Dari persoalan inilah gagasan Indonesian Road Safety Rating (IDRS) diperkenalkan.
IDRS Membuat Keselamatan Lebih Terlihat
IDRS diarahkan untuk membuat informasi keselamatan kendaraan lebih terlihat dan lebih mudah dibandingkan oleh konsumen.
Dalam paparannya, diperkenalkan sejumlah pendekatan penilaian, yakni ID-MAP untuk penilaian sepeda motor, ID-CamScore untuk kamera dasbor dan ID-TrackScore untuk GPS.
Konsep tersebut juga digambarkan melalui siklus sinyal pasar yang menghubungkan pengujian independen, penilaian keselamatan, informasi kepada konsumen, keputusan pembelian hingga respons produsen.
Dengan demikian, hasil pengujian tidak hanya berhenti sebagai data teknis, tetapi dapat diterjemahkan menjadi informasi yang lebih mudah digunakan konsumen ketika membandingkan kendaraan.
Pada bagian ini, Adrianto menyampaikan pesan yang menjadi inti gagasan tersebut.
“Anda tidak bisa memilih sesuatu yang tidak bisa Anda lihat.”
Kalimat itu kemudian diperkuat dengan gagasan bahwa peringkat keselamatan membuat keselamatan menjadi terlihat.
“Buat keselamatan terlihat. Buat keselamatan dapat dibandingkan. Jadikan keselamatan sebagai pilihan,” katanya.
Dengan kata lain, konsumen tidak hanya membutuhkan daftar fitur keselamatan. Mereka juga membutuhkan informasi mengenai performa fitur tersebut agar dapat membandingkan kendaraan secara lebih jelas.
Teknologi Makin Banyak, Informasi Keselamatan Makin Penting
Kebutuhan terhadap informasi tersebut semakin relevan seiring berkembangnya teknologi kendaraan.
Berbagai teknologi keselamatan kini hadir pada mobil dan sepeda motor, termasuk ABS, sistem pengereman kombinasi, pengendalian traksi hingga teknologi bantuan pengemudi. Materi KNKT yang dipaparkan dalam forum yang sama juga menunjukkan beragam teknologi keselamatan pada kendaraan modern.
Namun teknologi tetap membutuhkan manusia sebagai pengguna.
“Teknologi bisa gagal jika manusia tidak mampu mengoperasikannya.”
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa semakin banyak teknologi yang dipasang pada kendaraan, semakin penting pula pemahaman pengguna terhadap cara kerja dan keterbatasannya.
Bagi konsumen, persoalannya akhirnya bukan hanya fitur keselamatan apa yang dimiliki sebuah kendaraan, tetapi juga seberapa baik fitur tersebut bekerja ketika keselamatan benar-benar dibutuhkan.
Karena itu, informasi mengenai performa keselamatan dapat menjadi bagian penting dalam proses memilih kendaraan.
“Buat keselamatan terlihat, buat keselamatan dapat dibandingkan, dan jadikan keselamatan sebagai pilihan,” pungkasnya.
Gagasan tersebut menjadi inti IDRS dalam mendorong perubahan cara konsumen melihat keselamatan kendaraan, dari sekadar daftar fitur menuju informasi mengenai performa keselamatan yang dapat dilihat dan dibandingkan.
![]() |
| Adrianto S. Wiyono (IDRS) membahas Indonesian Road Safety Rating untuk konsumen kendaraan. |
Persoalan itu dibahas Adrianto S. Wiyono, Perwakilan Indonesian Road Safety Rating (IDRS) sekaligus dosen Politeknik APP, melalui materi Safety Rating for Automotive Consumerism dalam MOVEINDO Symposium 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Dalam paparannya, Adrianto menunjukkan bahwa konsumen dapat melihat berbagai fitur yang ditawarkan kendaraan. Namun, kemampuan keselamatan kendaraan tidak selalu terlihat secara langsung.
“Kita bisa melihat fitur, tetapi kita tidak bisa melihat keselamatannya.”
Pertanyaan berikutnya pun menjadi lebih penting, yakni seberapa aman kendaraan tersebut ketika digunakan dalam kondisi sebenarnya.
Tenaga mesin, konsumsi bahan bakar, desain, ukuran layar maupun konektivitas relatif mudah dilihat dan dibandingkan. Sebaliknya, kemampuan kendaraan melindungi penumpang saat kecelakaan, performa pengereman dalam kondisi darurat, efektivitas pengendalian stabilitas hingga kemampuan menghindari kecelakaan membutuhkan pengujian untuk dapat diketahui.
Dari Daftar Fitur ke Performa Keselamatan
Karena itu, cara konsumen menilai keselamatan kendaraan perlu berubah.
Adrianto menggambarkan perubahan tersebut sebagai pergeseran dari daftar periksa fitur keselamatan menuju penilaian berbasis performa keselamatan.
Konsumen tidak cukup berhenti pada pertanyaan apakah kendaraan memiliki ABS.
“Apakah kendaraan memiliki ABS?”
Pertanyaan tersebut perlu dilanjutkan dengan bagaimana kinerja sistem itu ketika kendaraan harus melakukan pengereman darurat.
“Bagaimana kinerjanya ketika melakukan pengereman darurat?”
Hal serupa berlaku pada kantong udara. Keberadaan perangkat tersebut menjadi informasi awal, sedangkan kemampuan melindungi penumpang ketika terjadi kecelakaan menjadi persoalan berikutnya.
“Seberapa baik sistem tersebut melindungi penumpang ketika terjadi kecelakaan?”
Sementara pada teknologi bantuan pengemudi, pertanyaannya bukan hanya apakah kendaraan telah memiliki teknologi tersebut, tetapi seberapa efektif sistem itu membantu mengurangi risiko tabrakan.
“Seberapa efektif teknologi tersebut mengurangi risiko kecelakaan?”
Perubahan cara pandang dari sekadar melihat fitur menuju menilai performa keselamatan inilah yang menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai rating keselamatan kendaraan, kata Adrianto.
Dengan pendekatan tersebut, keselamatan tidak lagi hanya menjadi daftar fitur dalam brosur. Performa teknologi ketika digunakan menjadi bagian penting dari informasi yang perlu diketahui konsumen.
Kesenjangan Informasi Jadi Persoalan Konsumen
Persoalan berikutnya adalah informasi keselamatan yang diterima konsumen.
Produsen dan regulator memiliki data teknis, hasil pengujian laboratorium serta hasil pengujian rekayasa kendaraan. Sementara konsumen menghadapi informasi yang lebih terfragmentasi dan tidak selalu mudah dibandingkan. Kondisi ini digambarkan sebagai kesenjangan asimetri informasi.
Akibatnya, calon pembeli bisa mengetahui sebuah mobil memiliki ABS, airbag atau teknologi bantuan pengemudi, tetapi belum tentu mendapatkan gambaran yang jelas mengenai performa keselamatan kendaraan secara keseluruhan.
Padahal, informasi tersebut penting ketika konsumen harus membandingkan beberapa kendaraan sebelum membeli.
“Informasi keselamatan yang diterima konsumen harus bisa membantu mereka membandingkan kendaraan,” ucap Adrianto dalam paparannya.
Dari persoalan inilah gagasan Indonesian Road Safety Rating (IDRS) diperkenalkan.
IDRS Membuat Keselamatan Lebih Terlihat
IDRS diarahkan untuk membuat informasi keselamatan kendaraan lebih terlihat dan lebih mudah dibandingkan oleh konsumen.
Dalam paparannya, diperkenalkan sejumlah pendekatan penilaian, yakni ID-MAP untuk penilaian sepeda motor, ID-CamScore untuk kamera dasbor dan ID-TrackScore untuk GPS.
Konsep tersebut juga digambarkan melalui siklus sinyal pasar yang menghubungkan pengujian independen, penilaian keselamatan, informasi kepada konsumen, keputusan pembelian hingga respons produsen.
Dengan demikian, hasil pengujian tidak hanya berhenti sebagai data teknis, tetapi dapat diterjemahkan menjadi informasi yang lebih mudah digunakan konsumen ketika membandingkan kendaraan.
Pada bagian ini, Adrianto menyampaikan pesan yang menjadi inti gagasan tersebut.
“Anda tidak bisa memilih sesuatu yang tidak bisa Anda lihat.”
Kalimat itu kemudian diperkuat dengan gagasan bahwa peringkat keselamatan membuat keselamatan menjadi terlihat.
“Buat keselamatan terlihat. Buat keselamatan dapat dibandingkan. Jadikan keselamatan sebagai pilihan,” katanya.
Dengan kata lain, konsumen tidak hanya membutuhkan daftar fitur keselamatan. Mereka juga membutuhkan informasi mengenai performa fitur tersebut agar dapat membandingkan kendaraan secara lebih jelas.
Teknologi Makin Banyak, Informasi Keselamatan Makin Penting
Kebutuhan terhadap informasi tersebut semakin relevan seiring berkembangnya teknologi kendaraan.
Berbagai teknologi keselamatan kini hadir pada mobil dan sepeda motor, termasuk ABS, sistem pengereman kombinasi, pengendalian traksi hingga teknologi bantuan pengemudi. Materi KNKT yang dipaparkan dalam forum yang sama juga menunjukkan beragam teknologi keselamatan pada kendaraan modern.
Namun teknologi tetap membutuhkan manusia sebagai pengguna.
“Teknologi bisa gagal jika manusia tidak mampu mengoperasikannya.”
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa semakin banyak teknologi yang dipasang pada kendaraan, semakin penting pula pemahaman pengguna terhadap cara kerja dan keterbatasannya.
Bagi konsumen, persoalannya akhirnya bukan hanya fitur keselamatan apa yang dimiliki sebuah kendaraan, tetapi juga seberapa baik fitur tersebut bekerja ketika keselamatan benar-benar dibutuhkan.
Karena itu, informasi mengenai performa keselamatan dapat menjadi bagian penting dalam proses memilih kendaraan.
“Buat keselamatan terlihat, buat keselamatan dapat dibandingkan, dan jadikan keselamatan sebagai pilihan,” pungkasnya.
Gagasan tersebut menjadi inti IDRS dalam mendorong perubahan cara konsumen melihat keselamatan kendaraan, dari sekadar daftar fitur menuju informasi mengenai performa keselamatan yang dapat dilihat dan dibandingkan.







