-->
close
Sepeda Jakarta-Surabaya

Gelar Diskusi Pakar, Pelumas Shell Siap Implementasi Era B30

shell b30
Shell Indonesia bekerja-sama dengan Pusat Penelitian Lemigas dan pelaku bisnis menghadirkan forum diskusi panel untuk ikut berpartisipasi aktif dalam mensukseskan penerapan B30 di Indonesia. (25/2)

Jakarta, Otojatim.com - Untuk ketiga kalinya Shell Indonesia menggelar acara Shell ExpertConnect yang merupakan wadah kolaborasi dan forum diskusi tentang topik tren industri terkini pada 20 Februari 2020 di Jakarta. Dalam kesempatan kali ini, Shell bekerja sama dengan Pusat Penelitian Lemigas mengambil topik “Maximizing Performance in B30 implementation Era” yang dihadiri oleh lebih dari 160 mitra dan pelaku bisnis. 

Andri Pratiwa, Deputy Director Shell Lubricants Indonesia mengatakan, “Shell berkomitmen  untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, terutama pelaku bisnis, dalam berbagi informasi dan pengetahuan mengenai teknologi terkini dan penerapannya. Dengan berkolaborasi, kita dapat bekerjasama mengantisipasi tantangan yang mungkin terjadi di masa depan, dan sekaligus turut memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan ilmu dan teknologi di Indonesia. Di Shell ExpertConnect kali ini, kami menghadirkan para pakar juga pelaku bisnis di industri terkait untuk dapat berbagi pengalaman, pengetahuan dan praktek terbaik untuk mensukseskan implementasi B30.”

Para pakar yang menjadi pembicara dalam acara Shell ExpertConnect kali ini diantaranya adalah, Nanang Hermawan sebagai Head of Fuel and Aviation Researcher Group – LEMIGAS,  I Made Yatna sebagai GM Plant Operation BUMA, Taryono sebagai Technical Service Division Head HINO, dan Mohammad Rachman Hidayat Product Application Specialist – Shell Global Commercial Technology.
lemigas b30
Tampak foto (ki-ka): Mohammad Rachman Hidayat (Product Application Specialist – Shell Global Commercial Technology), Taryono (Technical Service Division Head HINO), I Made Yatna (GM Plant Operation BUMA), Nanang Hermawan (Head of Fuel and Aviation Researcher Group – LEMIGAS) dan Aisyah Maryam Namirah (moderator).
Dalam kesempatan itu, I Made Yatna dan Taryono menyambut baik acara Experconnect yang dilakukan Shell yang memaparkan dengan jelas fakta dan uji lapangan dari B30 baik dari sisi scientific maupun business practical dan bisa memberikan pengaruh positive terhadap pelaku bisnis yang menggunakan B30.

I Made Yatna mengatakan, dari hasil bench test yang mereka lakukan terhadap B30, bahwa terjadi kenaikan penggunaan bahan bakar (fuel consumption) sebesar 0.83% jika dibandingkan dengan bahan bakar konvensional dan ini mengkonfirmasi data spesifikasi B30 dari LEMIGAS. Di sisi lain karena POME memiliki sifat membersihkan, maka akan mempengaruhi penggunaan fuel filter. Namun Buma sangat mendukung program pemerintah ini dan siap bekerjasama dengan pihak terkait untuk pengujian lebih jauh dan antisipasi yang diperlukan.

Kesiapan implementasi B30 ini juga dilakukan oleh produsen HINO, dimana mereka  melakukan inovasi pada fuel system truck dan bus dengan memperbesar kapasitas fuel filter serta menyiapkan option fuel strainer dan mengubah bahan pelapis pada fuel tank dan piping untuk meningkatkan daya tahan kendaraan terhadap penggunaan B30 di Unit truk dan bus HINO terbaru.

Sementara itu Nanang Hermawan, Head of Fuel and Aviation Researcher Group LEMIGAS mengatakan bahwa pemanfaatan B30 telah melalui serangkaian pengujian, dari pengujian fisika kima, performance test engine, uji kompatibilitas material dan pengujian stabilitas penyimpanan. Sehingga menurut Nanang, B30 sudah siap untuk diimplementasikan dalam rangka mendukung regulasi Pemerintah.

Mohammad Rachman Hidayat, Shell Asia Pacific Product App Specialist memaparkan tantangan–tantangan yang dihadapi pelaku bisnis yang menggunakan B30 dibanding dengan bahan bakar konvensional. Secara umum B30 berbasis POME (Palm Oil Methyl Ester) sangat mempengaruhi sistem bahan bakar dan pelumasan. Rahman menuturkan dari sisi nilai korosi pada temperature tinggi, POME yang dipakai di Indonesia memiliki tingkat keasaaman yang rendah dibandingkan dengan RME (Rapeseed Methyl Ester) yang biasa digunakan di Eropa.

“Berdasarkan pengalaman dan data Shell, pelumas yang memiliki klasifikasi mutu oil mesin API Service CI-4 terbukti mampu mengatasi bahan bakar B30 atau lebih. Hal ini disebabkan API CI-4 ini memiliki sifat soot handling yang lebih baik dibanding klasifikasi API Service di bawahnya. Klasifikasi CI-4 juga compatible dengan mesin dengan standar emisi EURO IV (non DPF) yang akan segera di terapkan di Indonesia. Karena B30 memiliki kandungan Sulphur yang lebih rendah, sehingga memungkinkan untuk memperpanjang oil drain interval,” jelas Rahman.

Sementara itu dalam penutupannya Bambang Wahyudi, VP Technical Shell Lubricants Indonesia mengharapkan akan lebih banyak lagi forum-forum seperti Shell ExpertConnect yang memberikan kesempatan bagi pelaku bisnis untuk memahami informasi-informasi teknis yang didukung oleh data ilmiah dan dapat membantu peningkatan produktivitas.  “Forum diskusi seperti ini juga dapat membantu pelaku bisnis dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang diwajibkan untuk industry dan meminimalkan dampak negatif dari penyebaran informasi yang tidak di dukung oleh data ilmiah,” kata Bambang.
LihatTutupKomentar