OTOJATIM - Teknologi Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) selama ini digadang-gadang menjadi salah satu fitur keselamatan paling canggih yang tersedia pada mobil modern. Beragam fitur seperti Adaptive Cruise Control (ACC), Autonomous Emergency Braking (AEB), hingga Blind Spot Monitoring dirancang untuk membantu pengemudi mengurangi risiko kecelakaan.
Namun hasil penelitian yang dipresentasikan dalam Konferensi Keselamatan Jalan Raya (KEJAR) 2026 menunjukkan gambaran berbeda ketika teknologi tersebut diuji di kondisi lalu lintas Indonesia yang dipenuhi sepeda motor.
Penelitian berjudul Mobil Modern dengan ADAS pada Kondisi Jalanan yang Padat Sepeda Motor di Jakarta mengungkap bahwa sistem ADAS mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan pola lalu lintas yang sangat dinamis. Studi yang dilakukan Disma Prasaja dan Ade Yulia Kirana itu menguji performa fitur ADAS Level 2 pada ruas Jalan Pasar Minggu serta Koridor Casablanca.
"Fitur ADAS mengalami 'stress sistem' akut," tulis peneliti dalam abstrak yang dipresentasikan pada KEJAR 2026.
Pengujian lapangan dilakukan selama tiga hari dengan total jarak tempuh sedikitnya 200 kilometer. Data dikumpulkan melalui sistem OBD-II serta analisis video dascam untuk melihat bagaimana teknologi tersebut bekerja dalam situasi lalu lintas harian.
Hasilnya cukup mengejutkan. Adaptive Cruise Control atau ACC disebut tidak dapat digunakan pada jam sibuk. Penyebabnya adalah jarak aman kendaraan yang terus-menerus terpotong oleh sepeda motor yang berpindah jalur dan menyelip di antara kendaraan.
Kondisi tersebut membuat pengemudi harus terus mengambil alih kendali kendaraan secara manual. Peneliti mencatat intervensi pengemudi terjadi rata-rata setiap 1,2 kilometer perjalanan.
Masalah juga muncul pada fitur Autonomous Emergency Braking (AEB). Sistem pengereman otomatis ini tercatat menghasilkan tingkat false positive atau pengereman mendadak tanpa ancaman nyata sebesar 38 persen ketika menghadapi manuver penyaringan sepeda motor yang agresif.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa lingkungan lalu lintas Indonesia menghadirkan tantangan berbeda dibandingkan negara-negara yang menjadi lokasi pengembangan awal teknologi ADAS. Volume sepeda motor yang tinggi serta perilaku berkendara yang sangat dinamis membuat sensor dan algoritma kendaraan harus bekerja lebih keras.
Penelitian itu menyimpulkan bahwa teknologi ADAS yang digunakan saat ini belum mampu bertahan secara fungsional pada kondisi lalu lintas Jakarta tanpa adanya penyempurnaan algoritma sensor. Pengembangan sistem yang lebih berorientasi pada karakteristik sepeda motor menjadi kebutuhan penting agar fitur keselamatan aktif dapat bekerja lebih efektif.
Temuan ini menjadi catatan penting bagi industri otomotif yang tengah berlomba menghadirkan fitur keselamatan canggih pada kendaraan baru. Di satu sisi, teknologi ADAS tetap memiliki potensi besar untuk meningkatkan keselamatan. Namun di sisi lain, karakter lalu lintas Indonesia ternyata membutuhkan penyesuaian khusus agar teknologi tersebut mampu bekerja sesuai harapan di jalan raya.
![]() |
| Gambar ilustrasi - Penelitian KEJAR 2026 menemukan fitur ADAS mengalami kesulitan bekerja optimal pada lalu lintas padat sepeda motor di Jakarta. (Foto:Pexels) |
Penelitian berjudul Mobil Modern dengan ADAS pada Kondisi Jalanan yang Padat Sepeda Motor di Jakarta mengungkap bahwa sistem ADAS mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan pola lalu lintas yang sangat dinamis. Studi yang dilakukan Disma Prasaja dan Ade Yulia Kirana itu menguji performa fitur ADAS Level 2 pada ruas Jalan Pasar Minggu serta Koridor Casablanca.
"Fitur ADAS mengalami 'stress sistem' akut," tulis peneliti dalam abstrak yang dipresentasikan pada KEJAR 2026.
Pengujian lapangan dilakukan selama tiga hari dengan total jarak tempuh sedikitnya 200 kilometer. Data dikumpulkan melalui sistem OBD-II serta analisis video dascam untuk melihat bagaimana teknologi tersebut bekerja dalam situasi lalu lintas harian.
Hasilnya cukup mengejutkan. Adaptive Cruise Control atau ACC disebut tidak dapat digunakan pada jam sibuk. Penyebabnya adalah jarak aman kendaraan yang terus-menerus terpotong oleh sepeda motor yang berpindah jalur dan menyelip di antara kendaraan.
Kondisi tersebut membuat pengemudi harus terus mengambil alih kendali kendaraan secara manual. Peneliti mencatat intervensi pengemudi terjadi rata-rata setiap 1,2 kilometer perjalanan.
Masalah juga muncul pada fitur Autonomous Emergency Braking (AEB). Sistem pengereman otomatis ini tercatat menghasilkan tingkat false positive atau pengereman mendadak tanpa ancaman nyata sebesar 38 persen ketika menghadapi manuver penyaringan sepeda motor yang agresif.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa lingkungan lalu lintas Indonesia menghadirkan tantangan berbeda dibandingkan negara-negara yang menjadi lokasi pengembangan awal teknologi ADAS. Volume sepeda motor yang tinggi serta perilaku berkendara yang sangat dinamis membuat sensor dan algoritma kendaraan harus bekerja lebih keras.
Penelitian itu menyimpulkan bahwa teknologi ADAS yang digunakan saat ini belum mampu bertahan secara fungsional pada kondisi lalu lintas Jakarta tanpa adanya penyempurnaan algoritma sensor. Pengembangan sistem yang lebih berorientasi pada karakteristik sepeda motor menjadi kebutuhan penting agar fitur keselamatan aktif dapat bekerja lebih efektif.
Temuan ini menjadi catatan penting bagi industri otomotif yang tengah berlomba menghadirkan fitur keselamatan canggih pada kendaraan baru. Di satu sisi, teknologi ADAS tetap memiliki potensi besar untuk meningkatkan keselamatan. Namun di sisi lain, karakter lalu lintas Indonesia ternyata membutuhkan penyesuaian khusus agar teknologi tersebut mampu bekerja sesuai harapan di jalan raya.




