IDRS Kembangkan Protokol Uji Rem Motor, UN R78 Jadi Acuan Awal

OTOJATIM – Indonesian Road Safety Rating (IDRS) mulai mengembangkan protokol pengujian pengereman sepeda motor dengan mengacu pada United Nations Regulation No. 78 (UN R78). Pengembangan ini menjadi bagian dari persiapan penilaian keselamatan kendaraan yang nantinya tidak hanya memeriksa keberadaan fitur, tetapi juga mengukur seberapa baik perangkat tersebut bekerja.
Pengujian pengereman sepeda motor di lintasan tertutup sebagai bagian dari pengembangan protokol Indonesia Motorcycle Assessment Program (ID MAP) oleh IDRS.
Ketua Program IDRS, Adrianto Sugiarto Wiyono, mengatakan kegiatan pengujian pada 10 Oktober 2026 difokuskan pada pengembangan protokol dan pengumpulan data. Hasilnya akan digunakan untuk mempelajari parameter yang dapat diterapkan dalam Indonesia Motorcycle Assessment Program (ID MAP).

"Jadi, kegiatan hari ini kita lebih kepada pengembangan protokol," kata Adrianto.

Menurutnya, protokol diperlukan untuk menentukan struktur dan parameter pengujian. Dengan adanya acuan tersebut, penilaian keselamatan dapat dilakukan melalui metode yang terukur, bukan hanya berdasarkan informasi spesifikasi kendaraan.

Fitur Keselamatan Perlu Diuji Kinerjanya
Selama ini, penilaian IDRS masih berfokus pada ketersediaan fitur keselamatan di sepeda motor. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah kendaraan telah dilengkapi perangkat tertentu.

Namun, keberadaan fitur belum otomatis menggambarkan efektivitasnya ketika digunakan. Dua kendaraan yang sama-sama memiliki perangkat keselamatan tertentu belum tentu menunjukkan kinerja yang identik.

Adrianto menjelaskan bahwa pengujian langsung diperlukan untuk mengetahui kemampuan sebenarnya dari perangkat tersebut.

"Kalau fitur itu bisa kelihatan, kita baca brosur, oh ada barangnya. Tapi, seberapa baik fitur ini bekerja, ya kita perlu acuan," ujarnya.

Karena itu, IDRS mulai mengembangkan metode pengujian berbasis performa. Tahapan ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih mendalam mengenai kemampuan perangkat keselamatan dibandingkan pemeriksaan keberadaan fitur saja.

UN R78 Menjadi Dasar Pengembangan Pengujian
Dalam menyusun protokol pengereman, IDRS menggunakan United Nations Regulation No. 78 sebagai salah satu acuan. Regulasi ini menjadi titik awal untuk mempelajari parameter pengujian pengereman sepeda motor.
Perangkat RaceLogic digunakan untuk merekam data selama pengujian pengereman sepeda motor yang mengacu pada UN R78.
Namun, IDRS juga ingin mengkaji kemungkinan pengembangan kriteria penilaian yang lebih tinggi daripada persyaratan dasar yang sudah tersedia.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah anggapan bahwa sepeda motor dengan Anti-lock Braking System (ABS) memiliki jarak pengereman lebih panjang.

Menurut Adrianto, anggapan tersebut perlu dibuktikan melalui data. IDRS ingin melihat bagaimana kemampuan pengereman kendaraan yang beredar di pasar ketika diuji menggunakan metode yang terukur.

"Jangan-jangan di pasaran sekarang motor-motor jaraknya lebih pendek daripada yang sudah distandarkan. Artinya, mereka lebih baik," jelasnya.

Data tersebut nantinya dapat menjadi bahan kajian untuk mengetahui apakah kemampuan pengereman kendaraan sudah melampaui persyaratan yang berlaku. Jika ditemukan peluang peningkatan, IDRS dapat mempertimbangkan pengembangan parameter tambahan untuk sistem pemeringkatan.

Meski demikian, kemungkinan penerapan kriteria yang lebih tinggi masih membutuhkan penelitian dan analisis lebih lanjut.

Pengujian Mencakup Lintasan Kering dan Basah
Agenda pengujian IDRS mencakup dua kondisi lintasan, yakni kering dan basah. Pengujian dilakukan pada beberapa tingkat kecepatan dengan pengulangan untuk memperoleh data pengereman.

Pada lintasan kering, pengujian dijadwalkan pada kecepatan 40 km/jam, 60 km/jam, dan 80 km/jam. Sementara pada lintasan basah, pengujian dilakukan pada kecepatan 40 km/jam dan 60 km/jam.

Proses tersebut melibatkan pemasangan perangkat data logger untuk merekam data yang diperlukan. Pada pengujian lintasan basah, agenda kegiatan juga mencantumkan pemasangan outrigger sebagai bagian dari persiapan.
Sepeda motor dilengkapi perangkat outrigger untuk mendukung persiapan pengujian di fasilitas pengujian IDRS.
Adrianto menegaskan bahwa kegiatan tersebut belum ditujukan untuk menetapkan peringkat keselamatan kendaraan.

"Hari ini cuma pengumpulan data sebenarnya, jadi pengumpulan data untuk melihat kinerja sepeda motor," katanya.

Data yang diperoleh akan dipelajari lebih lanjut untuk melihat karakteristik pengereman dan menentukan parameter yang relevan bagi pengembangan protokol.

Dengan demikian, hasil pengujian awal belum dapat digunakan untuk menyimpulkan tingkat keunggulan atau kelemahan kendaraan tertentu.

Hasil Pengujian Bisa Menjadi Referensi Kebijakan
Pengembangan protokol juga memiliki kaitan dengan perlindungan konsumen. IDRS berharap hasil penilaian keselamatan nantinya dapat membantu masyarakat memahami aspek teknis yang perlu diperhatikan ketika memilih sepeda motor.

Adrianto mengatakan informasi keselamatan perlu disampaikan dengan cara yang mudah dipahami masyarakat. Pemeringkatan diharapkan dapat membantu konsumen mengenali tingkat keselamatan kendaraan tanpa harus mempelajari seluruh parameter teknis secara mendalam.

"Konsep kegiatan begini ini kan tujuannya lebih kepada membuat konsumen itu aware terhadap keselamatan," ujarnya.

Selain konsumen, hasil penelitian juga diharapkan memberikan informasi tambahan bagi produsen mengenai kinerja perangkat keselamatan yang digunakan pada produknya.

Bagi pemerintah, kajian independen IDRS berpotensi menjadi salah satu referensi dalam mempertimbangkan kebijakan keselamatan kendaraan. Namun, keputusan untuk mengadopsi hasil penelitian menjadi kebijakan atau standar wajib tetap berada di tangan pemerintah.

Adrianto menjelaskan bahwa pemeringkatan keselamatan berbeda dengan uji tipe atau homologasi. Uji tipe merupakan persyaratan wajib bagi kendaraan bermotor, sedangkan pemeringkatan memberikan penilaian tambahan mengenai aspek keselamatan.

Melalui pengembangan protokol berbasis UN R78, IDRS berupaya membangun fondasi teknis untuk penilaian keselamatan sepeda motor yang lebih mendalam. Tahapan ini menjadi bagian dari pengembangan ID MAP sekaligus mendukung cita-cita pengembangan NCAP Indonesia pada 2030.
LihatTutupKomentar

Skuter Django Jadi Primadona Selama Ajang Grand Auto Show 2017

Skuter Django jadi primadona ajang Grand Auto Show 2017 Surabaya, Otojatim.com – Selama ajang Grand Auto Show 2017 yang baru saja usai ...

close
harga yamaha nmax turbo