Indonesia Kaya Nikel, Tapi Mobil Listrik Wuling Tak Memakainya. Kenapa?

OTOJATIM – Indonesia memiliki salah satu aset terbesar dalam industri kendaraan listrik dunia: nikel. Negara ini bahkan menjadi produsen nikel terbesar dunia. Data U.S. Geological Survey memperkirakan produksi tambang nikel Indonesia mencapai 2,6 juta ton pada 2025, dari total produksi dunia sekitar 3,9 juta ton. 
Wuling baterai nikel
Otojatim dan media Asia Tenggara mengunjungi pabrik Wuling di Liuzhou, China (Sept 2026) 
Di sisi lain, Wuling sudah memiliki pabrik kendaraan di Indonesia sejak 2017 dan memproduksi kendaraan listrik secara lokal. Namun, ketika ditanya mengenai teknologi baterai yang digunakan, Wuling masih menyebut lithium-ion sebagai pilihan saat ini.

Pertanyaannya kemudian menjadi menarik: mengapa kekayaan nikel Indonesia belum otomatis membuat Wuling menggunakan baterai berbasis nikel pada mobil listrik produksinya di Indonesia?

Pertanyaan tersebut disampaikan kepada Liu Yan, Deputy Secretary of SGMW Overseas Business Department CPC Committee & Compliance Officer, dalam rangkaian pertemuan dengan media ASEAN di China pada September 2026.

Wuling Masih Memilih Lithium-ion
Liu Yan mengatakan Wuling saat ini masih menggunakan teknologi lithium-ion.

“Untuk saat ini kami masih menggunakan lithium-ion. Di China sendiri ada beberapa pilihan teknologi baterai,” ujar Liu Yan.

Menurut dia, teknologi berbasis nikel maupun lithium memiliki karakter masing-masing. Karena itu, penggunaan suatu teknologi tidak semata-mata ditentukan oleh ketersediaan bahan bakunya di suatu negara.

Wuling juga belum menutup kemungkinan menggunakan teknologi baterai lain pada masa mendatang.

Artinya, lithium-ion merupakan pilihan Wuling saat ini, bukan pernyataan bahwa baterai berbasis nikel tidak akan pernah digunakan.

Indonesia Punya Nikel, Tapi Baterai Mobil Tak Sesederhana Bahan Baku
Di sinilah persoalan baterai kendaraan listrik menjadi lebih kompleks.

Istilah lithium-ion sendiri merupakan keluarga teknologi baterai. Salah satu jenis yang banyak digunakan pada kendaraan listrik adalah lithium iron phosphate (LFP), sementara baterai dengan kimia seperti nickel-manganese-cobalt (NMC) menggunakan nikel sebagai salah satu material katodanya.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai “lithium versus nikel” sebenarnya bukan pilihan dua bahan yang berdiri sendiri.

Pada Wuling Aira ev yang diproduksi di Indonesia, misalnya, spesifikasinya mencantumkan baterai LFP 16,2 kWh dan 25,1 kWh untuk dua pilihan kapasitas. 

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa kendaraan listrik yang diproduksi Wuling di Indonesia saat ini menggunakan kimia baterai yang tidak membutuhkan nikel sebagai material utama katoda.

Lalu Mengapa Tidak Memanfaatkan Nikel Indonesia?
Wuling belum memberikan alasan spesifik bahwa keputusan tersebut disebabkan faktor tertentu.

Liu Yan tidak menyebut harga nikel, pasokan bahan baku, investasi baterai, kebijakan pemerintah, ataupun faktor lain sebagai alasan Wuling tetap menggunakan lithium-ion.

Yang disampaikan justru bahwa berbagai teknologi baterai memiliki pilihan dan karakter masing-masing.

Ini penting karena keberadaan pabrik mobil di Indonesia tidak otomatis berarti seluruh teknologi dan rantai pasok kendaraan harus menggunakan bahan baku yang tersedia di Indonesia.

Produksi kendaraan dan produksi sel baterai merupakan bagian berbeda dalam rantai industri. Sebuah mobil dapat dirakit atau diproduksi secara lokal dengan teknologi baterai yang dipilih berdasarkan kebutuhan produk dan keputusan teknologi produsennya.

Nikel Indonesia Tetap Menjadi Faktor Menarik
Posisi Indonesia dalam industri nikel membuat pertanyaan mengenai pilihan baterai Wuling menjadi relevan.

Menurut USGS, Indonesia menghasilkan sekitar 2,6 juta ton nikel pada 2025, jauh di atas negara produsen lain dalam data yang sama. Angka tersebut menyumbang sekitar dua pertiga produksi tambang nikel dunia. 

Pada saat yang sama, nikel merupakan salah satu material yang digunakan dalam sejumlah teknologi baterai rechargeable, termasuk baterai kendaraan listrik. 

Namun, besarnya produksi nikel tidak otomatis membuat semua produsen EV di Indonesia menggunakan baterai berbasis nikel.

Pilihan tersebut kembali kepada desain baterai, karakter kendaraan, target produk, teknologi yang dikuasai produsen serta keputusan rantai pasok masing-masing.

Pintu untuk Teknologi Lain Masih Terbuka
Jawaban Wuling juga menyisakan ruang untuk perkembangan berikutnya.

Liu Yan mengatakan Wuling masih menggunakan lithium-ion, tetapi pilihan teknologi lain tetap dapat dipertimbangkan. Dengan perkembangan industri baterai yang berlangsung cepat, keputusan yang digunakan pada produk saat ini belum tentu menjadi pilihan untuk seluruh model Wuling di masa depan.

Jadi, untuk saat ini, pabrik Wuling di Indonesia belum berarti mobil listriknya menggunakan kekayaan nikel Indonesia sebagai basis baterai.

Pertanyaan mengenai kapan Wuling akan menggunakan baterai berbasis nikel—atau apakah pilihan tersebut memang akan digunakan untuk produk Indonesia—masih terbuka.

Dan justru di titik itu, perkembangan industri baterai Indonesia menjadi menarik untuk terus diikuti: Indonesia memiliki bahan bakunya dalam jumlah besar, tetapi keputusan teknologi baterai tetap berada di tangan masing-masing produsen kendaraan.
LihatTutupKomentar

Gandeng Produsen Komponen Lokal, Wuling Motor Lengkapi Pabriknya Dengan Fasilitas Supplier Park

Pabrik PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) di Greenland International Industrial Centre (GIIC), Cikarang, Jawa Barat, kini sudah sia...

close
harga yamaha nmax turbo