OTOJATIM — Mitsubishi Motors membawa pendekatan berbeda pada elektrifikasi melalui New XForce HEV yang diperkenalkan di GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. SUV hybrid ini mengandalkan sistem hybrid generasi kedua dengan dua-speed transaxle yang memungkinkan motor listrik tetap berperan pada rentang kecepatan lebih luas.
“Yang bisa ditanyakan kepada merek lain, perbedaannya adalah kecepatan berapa mereka mencapai 1.000 kilometer,” ujar Brand Ambassador Mitsubishi Motors, Rifat Sungkar, saat berbagi pengalaman menguji New XForce HEV.
Rifat mengatakan, pengalaman mengemudikan New XForce HEV dalam perjalanan jauh memperlihatkan karakter sistem hybrid yang berbeda. Menurut dia, keberadaan dua-speed transaxle membuat motor listrik tetap dapat menjadi penggerak utama ketika kendaraan melaju pada kecepatan yang relatif tinggi.
“Karena kita punya 2 speed hybrid, sehingga di kecepatan yang cukup tinggi sampai saya pernah periksa, sampai 121 km per jam mungkin masih bisa EV mode,” katanya.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu pembeda New XForce HEV. Pada sistem hybrid konvensional, penggunaan tenaga listrik umumnya sangat dominan ketika kendaraan melaju pada kecepatan rendah, terutama dalam kondisi stop-and-go di perkotaan.
Mitsubishi mengembangkan sistem hybrid New XForce dengan dua transaxle yang memiliki fungsi berbeda. Sistem tersebut memungkinkan kendaraan menggunakan beberapa pola penggerak sesuai kondisi perjalanan, mulai dari EV drive, hybrid series, hingga parallel hybrid.
Saat kendaraan mulai bergerak dan baterai memiliki daya yang cukup, motor listrik menjadi penggerak utama. Ketika daya baterai berkurang, mesin bensin dapat bekerja sebagai sumber tenaga untuk mengisi baterai.
Dalam kondisi kendaraan membutuhkan tenaga lebih besar, terutama ketika menghadapi tanjakan, mesin dapat ikut membantu menggerakkan roda. Pada kecepatan tinggi, sistem parallel hybrid memungkinkan mesin memberikan tenaga secara lebih langsung untuk mendukung penggerak kendaraan.
Ada pula fungsi motor disconnect yang bekerja ketika kendaraan melaju konstan. Sistem ini dirancang untuk membantu mencapai efisiensi bahan bakar yang lebih optimal.
Sementara ketika pengemudi melepas pedal gas atau kendaraan melaju di jalan menurun, sistem regenerative braking memanfaatkan energi perlambatan untuk kembali mengisi baterai.
Diuji di Perjalanan Jauh dan Jalan Menanjak
Keunggulan sistem tersebut menurut Rifat terasa ketika New XForce HEV digunakan dalam perjalanan dengan kondisi jalan yang berubah-ubah.
Ia menceritakan pengalaman saat membawa mobil tersebut dalam perjalanan di Bali. Setelah menempuh perjalanan panjang, tantangan berikutnya justru muncul ketika kendaraan memasuki rute dengan kontur jalan naik dan turun.
“Kita menanti baterainya pasti akan habis. Tapi karena kita punya mode B, brake itu kalau turun, dia isi dua kali lebih cepat. Jadi mobilnya baterainya isi lagi,” tutur Rifat.
Pada kondisi menanjak, konsumsi energi baterai meningkat karena motor membutuhkan tenaga lebih besar. Namun ketika kendaraan kembali melewati turunan, energi yang sebelumnya terbuang saat perlambatan dapat diregenerasi untuk mengisi baterai.
“Pas nanjak, habisnya setengah. Turunan, isi lagi,” lanjutnya.
Pengalaman tersebut membuat Rifat melihat teknologi hybrid New XForce HEV memiliki relevansi dengan karakter perjalanan di Indonesia yang memiliki kondisi geografis beragam.
“Justru orang-orang yang tinggal di pegunungan pakai hybrid itu yang menguntungkan juga,” katanya.
Selain sistem dua-speed hybrid, New XForce HEV menyediakan tiga mode berkendara tambahan yang berkaitan dengan sistem elektrifikasi, yakni EV Mode, Charge Mode, dan Tarmac Mode.
EV Mode memungkinkan kendaraan mengutamakan tenaga listrik dalam kondisi yang sesuai. Sementara Charge Mode dapat dipilih ketika pengemudi ingin sistem memprioritaskan pengisian baterai.
Tarmac Mode disiapkan untuk kondisi ketika pengemudi membutuhkan respons dan akselerasi lebih besar, termasuk saat menghadapi tanjakan.
Tiga mode tersebut melengkapi empat mode berkendara yang telah tersedia pada New XForce, yakni Normal, Wet, Gravel, dan Mud.
Dengan demikian, New XForce HEV memiliki pilihan mode berkendara yang dapat disesuaikan dengan kondisi jalan dan kebutuhan pengemudi.
Hybrid Tanpa Menghilangkan Fleksibilitas
Pendekatan Mitsubishi pada New XForce HEV juga menarik jika ditempatkan dalam konteks perkembangan elektrifikasi kendaraan di Indonesia.
Mobil listrik murni menawarkan pengalaman berkendara tanpa mesin pembakaran, tetapi pengguna tetap perlu mempertimbangkan ketersediaan infrastruktur pengisian daya ketika melakukan perjalanan jauh. Hybrid menawarkan pendekatan berbeda karena masih memiliki mesin bensin, tetapi motor listrik dapat mengambil peran penting dalam penggerak kendaraan.
Konsep tersebut membuat New XForce HEV dapat digunakan tanpa ketergantungan pada charger eksternal. Pada saat yang sama, pengemudi tetap mendapatkan pengalaman berkendara yang lebih senyap dan halus ketika motor listrik menjadi penggerak utama.
“Dengan motor listrik membuat kendaraan ini menjadi lebih senyap dan halus pada saat akselerasi,” jelas Rifat.
New XForce sendiri kini ditawarkan dalam dua pilihan teknologi, yakni mesin bensin atau Internal Combustion Engine (ICE) dan hybrid.
Keduanya memiliki sejumlah pembaruan yang sama, seperti panoramic roof, penyempurnaan suspensi, kamera 360 derajat, serta fitur Diamond Sense dan berbagai mode berkendara. Sistem audio Yamaha Premium juga tetap tersedia.
Perbedaannya terletak pada karakter yang ditawarkan. New XForce ICE menggunakan mesin bensin 1.5-liter MIVEC dan transmisi CVT yang sudah familiar bagi konsumen Indonesia.
Sementara New XForce HEV memberikan alternatif bagi konsumen yang ingin merasakan karakter berkendara dengan motor listrik sekaligus tetap memiliki fleksibilitas mesin bensin.
Diproduksi di Indonesia untuk Pasar ASEAN
Kehadiran New XForce HEV juga memiliki arti penting bagi industri otomotif nasional. Model hybrid tersebut diproduksi secara lokal oleh PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI).
Indonesia sekaligus menjadi basis produksi New XForce HEV untuk kawasan ASEAN.
Hal ini memperlihatkan bahwa elektrifikasi Mitsubishi tidak berhenti pada pengenalan produk baru, tetapi juga mulai masuk ke sisi produksi kendaraan di Indonesia.
President Director PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia, Atsushi Kurita, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari perkembangan Mitsubishi dalam merespons perubahan kebutuhan konsumen.
“Perjalanan Mitsubishi Motors di Indonesia selalu ditandai oleh kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan masyarakat. Hari ini, kami memasuki fase berikutnya dengan lini produk yang semakin lengkap, pilihan teknologi yang semakin luas, dan fokus yang lebih kuat pada pengalaman pelanggan,” ujar Kurita.
Di GIIAS 2026, MMKSI menempatkan New XForce HEV sebagai salah satu daya tarik utama booth Mitsubishi. Model tersebut ditampilkan berdampingan dengan New XForce ICE untuk memperlihatkan dua pilihan teknologi yang dapat dipilih konsumen.
MMKSI juga menyediakan unit test drive agar pengunjung dapat merasakan langsung perbedaan karakter kedua pilihan tersebut.
Pada masa peluncuran di GIIAS 2026, New XForce HEV ditawarkan mulai Rp445 juta, sedangkan New XForce ICE dibanderol mulai Rp388 juta untuk varian Exceed dan Rp399 juta untuk Ultimate.
Bagi konsumen Indonesia, kehadiran dua pilihan tersebut menunjukkan bahwa transisi menuju elektrifikasi dapat ditempuh melalui lebih dari satu jalur.
New XForce ICE menawarkan fleksibilitas mesin bensin, sementara New XForce HEV membawa efisiensi dan pengalaman berkendara elektrifikasi tanpa menghilangkan kemampuan melakukan perjalanan jauh dengan dukungan mesin bensin.
Dan di situlah teknologi dua-speed hybrid New XForce HEV menjadi menarik. Bukan semata soal seberapa besar kapasitas baterai atau seberapa jauh kendaraan bisa berjalan menggunakan listrik, tetapi bagaimana sistem tersebut mengatur tenaga listrik dan mesin sesuai kondisi perjalanan.
Pengalaman Rifat Sungkar di perjalanan panjang memperlihatkan bahwa karakter itu tidak hanya terdengar menarik di atas kertas. Ketika jalan berubah dari datar menjadi menanjak dan kemudian menurun, sistem hybrid bekerja dengan strategi berbeda untuk menjaga tenaga sekaligus memanfaatkan kembali energi yang tersedia.
New XForce HEV pada akhirnya menawarkan cara Mitsubishi menerjemahkan elektrifikasi ke dalam SUV yang tetap mengikuti realitas perjalanan masyarakat Indonesia.
![]() |
| Jajaran MMKSI dan Rifat Sungkar (kanan) selaku Brand Ambassador Mitsubishi saat press conference dengan media di GIIAS 2026 |
Rifat mengatakan, pengalaman mengemudikan New XForce HEV dalam perjalanan jauh memperlihatkan karakter sistem hybrid yang berbeda. Menurut dia, keberadaan dua-speed transaxle membuat motor listrik tetap dapat menjadi penggerak utama ketika kendaraan melaju pada kecepatan yang relatif tinggi.
“Karena kita punya 2 speed hybrid, sehingga di kecepatan yang cukup tinggi sampai saya pernah periksa, sampai 121 km per jam mungkin masih bisa EV mode,” katanya.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu pembeda New XForce HEV. Pada sistem hybrid konvensional, penggunaan tenaga listrik umumnya sangat dominan ketika kendaraan melaju pada kecepatan rendah, terutama dalam kondisi stop-and-go di perkotaan.
Mitsubishi mengembangkan sistem hybrid New XForce dengan dua transaxle yang memiliki fungsi berbeda. Sistem tersebut memungkinkan kendaraan menggunakan beberapa pola penggerak sesuai kondisi perjalanan, mulai dari EV drive, hybrid series, hingga parallel hybrid.
Saat kendaraan mulai bergerak dan baterai memiliki daya yang cukup, motor listrik menjadi penggerak utama. Ketika daya baterai berkurang, mesin bensin dapat bekerja sebagai sumber tenaga untuk mengisi baterai.
Dalam kondisi kendaraan membutuhkan tenaga lebih besar, terutama ketika menghadapi tanjakan, mesin dapat ikut membantu menggerakkan roda. Pada kecepatan tinggi, sistem parallel hybrid memungkinkan mesin memberikan tenaga secara lebih langsung untuk mendukung penggerak kendaraan.
Ada pula fungsi motor disconnect yang bekerja ketika kendaraan melaju konstan. Sistem ini dirancang untuk membantu mencapai efisiensi bahan bakar yang lebih optimal.
Sementara ketika pengemudi melepas pedal gas atau kendaraan melaju di jalan menurun, sistem regenerative braking memanfaatkan energi perlambatan untuk kembali mengisi baterai.
Diuji di Perjalanan Jauh dan Jalan Menanjak
Keunggulan sistem tersebut menurut Rifat terasa ketika New XForce HEV digunakan dalam perjalanan dengan kondisi jalan yang berubah-ubah.
Ia menceritakan pengalaman saat membawa mobil tersebut dalam perjalanan di Bali. Setelah menempuh perjalanan panjang, tantangan berikutnya justru muncul ketika kendaraan memasuki rute dengan kontur jalan naik dan turun.
“Kita menanti baterainya pasti akan habis. Tapi karena kita punya mode B, brake itu kalau turun, dia isi dua kali lebih cepat. Jadi mobilnya baterainya isi lagi,” tutur Rifat.
Pada kondisi menanjak, konsumsi energi baterai meningkat karena motor membutuhkan tenaga lebih besar. Namun ketika kendaraan kembali melewati turunan, energi yang sebelumnya terbuang saat perlambatan dapat diregenerasi untuk mengisi baterai.
“Pas nanjak, habisnya setengah. Turunan, isi lagi,” lanjutnya.
Pengalaman tersebut membuat Rifat melihat teknologi hybrid New XForce HEV memiliki relevansi dengan karakter perjalanan di Indonesia yang memiliki kondisi geografis beragam.
“Justru orang-orang yang tinggal di pegunungan pakai hybrid itu yang menguntungkan juga,” katanya.
Selain sistem dua-speed hybrid, New XForce HEV menyediakan tiga mode berkendara tambahan yang berkaitan dengan sistem elektrifikasi, yakni EV Mode, Charge Mode, dan Tarmac Mode.
EV Mode memungkinkan kendaraan mengutamakan tenaga listrik dalam kondisi yang sesuai. Sementara Charge Mode dapat dipilih ketika pengemudi ingin sistem memprioritaskan pengisian baterai.
Tarmac Mode disiapkan untuk kondisi ketika pengemudi membutuhkan respons dan akselerasi lebih besar, termasuk saat menghadapi tanjakan.
Tiga mode tersebut melengkapi empat mode berkendara yang telah tersedia pada New XForce, yakni Normal, Wet, Gravel, dan Mud.
Dengan demikian, New XForce HEV memiliki pilihan mode berkendara yang dapat disesuaikan dengan kondisi jalan dan kebutuhan pengemudi.
Hybrid Tanpa Menghilangkan Fleksibilitas
Pendekatan Mitsubishi pada New XForce HEV juga menarik jika ditempatkan dalam konteks perkembangan elektrifikasi kendaraan di Indonesia.
Mobil listrik murni menawarkan pengalaman berkendara tanpa mesin pembakaran, tetapi pengguna tetap perlu mempertimbangkan ketersediaan infrastruktur pengisian daya ketika melakukan perjalanan jauh. Hybrid menawarkan pendekatan berbeda karena masih memiliki mesin bensin, tetapi motor listrik dapat mengambil peran penting dalam penggerak kendaraan.
Konsep tersebut membuat New XForce HEV dapat digunakan tanpa ketergantungan pada charger eksternal. Pada saat yang sama, pengemudi tetap mendapatkan pengalaman berkendara yang lebih senyap dan halus ketika motor listrik menjadi penggerak utama.
![]() |
| Otojatim saat menjajal XForce HEV di jalanan luar kota dengan rute campuran tol dan tanjakan perbukitan, konsumsi BBM nya mencapai 23 km per liter. |
New XForce sendiri kini ditawarkan dalam dua pilihan teknologi, yakni mesin bensin atau Internal Combustion Engine (ICE) dan hybrid.
Keduanya memiliki sejumlah pembaruan yang sama, seperti panoramic roof, penyempurnaan suspensi, kamera 360 derajat, serta fitur Diamond Sense dan berbagai mode berkendara. Sistem audio Yamaha Premium juga tetap tersedia.
Perbedaannya terletak pada karakter yang ditawarkan. New XForce ICE menggunakan mesin bensin 1.5-liter MIVEC dan transmisi CVT yang sudah familiar bagi konsumen Indonesia.
Sementara New XForce HEV memberikan alternatif bagi konsumen yang ingin merasakan karakter berkendara dengan motor listrik sekaligus tetap memiliki fleksibilitas mesin bensin.
Diproduksi di Indonesia untuk Pasar ASEAN
Kehadiran New XForce HEV juga memiliki arti penting bagi industri otomotif nasional. Model hybrid tersebut diproduksi secara lokal oleh PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI).
Indonesia sekaligus menjadi basis produksi New XForce HEV untuk kawasan ASEAN.
Hal ini memperlihatkan bahwa elektrifikasi Mitsubishi tidak berhenti pada pengenalan produk baru, tetapi juga mulai masuk ke sisi produksi kendaraan di Indonesia.
President Director PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia, Atsushi Kurita, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari perkembangan Mitsubishi dalam merespons perubahan kebutuhan konsumen.
“Perjalanan Mitsubishi Motors di Indonesia selalu ditandai oleh kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan masyarakat. Hari ini, kami memasuki fase berikutnya dengan lini produk yang semakin lengkap, pilihan teknologi yang semakin luas, dan fokus yang lebih kuat pada pengalaman pelanggan,” ujar Kurita.
Di GIIAS 2026, MMKSI menempatkan New XForce HEV sebagai salah satu daya tarik utama booth Mitsubishi. Model tersebut ditampilkan berdampingan dengan New XForce ICE untuk memperlihatkan dua pilihan teknologi yang dapat dipilih konsumen.
MMKSI juga menyediakan unit test drive agar pengunjung dapat merasakan langsung perbedaan karakter kedua pilihan tersebut.
Pada masa peluncuran di GIIAS 2026, New XForce HEV ditawarkan mulai Rp445 juta, sedangkan New XForce ICE dibanderol mulai Rp388 juta untuk varian Exceed dan Rp399 juta untuk Ultimate.
Bagi konsumen Indonesia, kehadiran dua pilihan tersebut menunjukkan bahwa transisi menuju elektrifikasi dapat ditempuh melalui lebih dari satu jalur.
New XForce ICE menawarkan fleksibilitas mesin bensin, sementara New XForce HEV membawa efisiensi dan pengalaman berkendara elektrifikasi tanpa menghilangkan kemampuan melakukan perjalanan jauh dengan dukungan mesin bensin.
Dan di situlah teknologi dua-speed hybrid New XForce HEV menjadi menarik. Bukan semata soal seberapa besar kapasitas baterai atau seberapa jauh kendaraan bisa berjalan menggunakan listrik, tetapi bagaimana sistem tersebut mengatur tenaga listrik dan mesin sesuai kondisi perjalanan.
Pengalaman Rifat Sungkar di perjalanan panjang memperlihatkan bahwa karakter itu tidak hanya terdengar menarik di atas kertas. Ketika jalan berubah dari datar menjadi menanjak dan kemudian menurun, sistem hybrid bekerja dengan strategi berbeda untuk menjaga tenaga sekaligus memanfaatkan kembali energi yang tersedia.
New XForce HEV pada akhirnya menawarkan cara Mitsubishi menerjemahkan elektrifikasi ke dalam SUV yang tetap mengikuti realitas perjalanan masyarakat Indonesia.






