OTOJATIM - Isuzu TRAGA memang menjadi lawan yang sangat tangguh bagi Mitsubishi L300. Ini dibuktikan dari data penjualan TRAGA yang sanggup terjual sekitar 6.000 unit di tahun pertamanya dan langsung mengikis penjualan L300.
Jika tadinya Elsapek atau sapaan akrab L300 ini jadi pemain pasar yang nyaris melenggang sendirian sebab tidak ada perlawanan berarti dari KIA Big Up, TATA Xenon dan sebagainya, sejak kehadiran TRAGA di 2018 jagoan dari Mitsubishi ini harus waspada.
Apalagi terdapat fakta baru bahwa Isuzu TRAGA merupakan salah satu model paling nasionalis di kelasnya. Maksudnya Tingkat Komponen / Kandungan Dalam Negeri (TKDN) nya cukup tinggi. Isuzu Traga mencatat tingkat TKDN sebesar 46,45 persen, sementara dikutip dari berbagai sumber Mitsubishi L300 hanya sedikit ada di atasnya yakni sekitar 50%.
Membahas TKDN tentunya belum relevan untuk Toyota Hilux Rangga, karena kendaraan niaga tersebut belum dirakit di Indonesia oleh karena masih impor utuh alias Completely Built Up (CBU). Namun, di masa depan bila penjualan Hilux Rangga bisa terus naik dan stabil Rangga bisa dirakit di Indonesia.
Apalagi Rangga punya spesifikasi yang mirip-mirip dengan Toyota Kijang Innova Reborn, mulai dari mesin, transmisi, hingga sasisnya yang mirip meski tidak sama persis. Ini membuka kesempatan di masa depan jika permintaan tinggi bisa saja Rangga dirakit di Indonesia.
Peningkatan TKDN Isuzu TRAGA ini tak bisa dianggap remeh, ini berarti PT Isuzu Astra Motor Indonesia telah secara serius melakukan berbagai upaya untuk menambah TKDN tersebut. TKDN ini penting bagi kelangsungan industri di Indonesia. Penjelasan lengkapnya mengenai TKDN ada di bawah ini.
Pentingnya TKDN
TKDN sejatinya adalah akronim dari Tingkat Komponen Dalam Negeri. Sebuah usaha dalam bentuk regulasi yang bertujuan memperkuat ekonomi Nasional, tak terkecuali di bidang industri otomotif. TKDN ini sangat penting untuk melindungi industri dalam negeri.
"Tanpa TKDN, industri Indonesia berpotensi menjadi sekadar 'tukang jahit' dengan nilai tambah yang minim, sementara bahan baku dan mesin didatangkan dari luar negeri," kata Rido Nugroho, seorang Public Policy and ESG Enthusiast.
TKDN, bersama dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), merupakan instrumen penting dalam mengendalikan impor. Dengan kata lain, TKDN dapat digunakan untuk mendorong investasi dan memastikan produk-produk domestik lebih kompetitif di pasar dalam negeri.
Di tengah derasnya arus barang impor, kebijakan TKDN dan penguatan Local Purchase ini dapat menjadi tameng untuk menjaga pasar domestik tetap sehat dan mampu menyerap hasil produksi lokal. "Peran TKDN menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa celah pasar domestik diisi oleh produk dalam negeri, bukan oleh barang impor," tutup Rido sapaan akrab @Arviansyah23 selaku penulis dan penguji kendaraan profesional ke Rido Nugroho.





