OTOJATIM - Lampu mobil bukan sekadar aksesori. Di balik sorot cahaya yang menembus kegelapan, ada sistem komunikasi antar pengemudi yang kalau disepelekan bisa berujung fatal di jalan. Astra Peugeot pun turun langsung memberikan edukasi soal fungsi head lamp, indicator, dan signaling — tiga komponen penerangan yang kerap dipahami setengah-setengah oleh pengemudi Indonesia.
"Butuh pemahaman terhadap fungsi masing-masing lampu, karena kerap diabaikan oleh pengemudi. Apalagi buat pemilik kendaraan yang salah kaprah dalam memodifikasi masing-masing lampu, seperti mengganti lampu sein atau lampu rem dengan bohlam berwarna putih cerah. Cara tersebut tidak hanya membahayakan pengemudi lain karena membingungkan, juga tampak silau jika dilihat," ujar Mohan Kurniawan, Kepala Bengkel Astra Peugeot Cabang Surabaya.
Head lamp atau lampu utama adalah yang paling familiar, tapi paling sering disalahgunakan. Lampu ini terdiri dari dua mode: low beam untuk kondisi lalu lintas normal, dan high beam untuk menembus jalan gelap tanpa kendaraan dari arah berlawanan. Masalahnya, banyak pengemudi yang asal nyalakan high beam di jalan ramai — dan itu sama saja menyilaukan mata pengemudi lain.
Lain lagi soal indicator alias lampu sein. Fungsinya bukan dekorasi, melainkan penanda arah yang wajib dinyalakan sebelum belok, pindah jalur, atau menyalip. Sayangnya, budaya "sein belakangan" masih subur di jalanan Indonesia. Padahal lampu sein adalah bentuk komunikasi visual paling dasar yang menjaga pengemudi lain tetap waspada dan antisipatif.
"Setiap lampu memiliki peran yang berbeda, tidak hanya untuk membantu pengemudi melihat, tetapi juga untuk memberikan informasi kepada pengguna jalan lain. Penggunaan lampu pada mobil yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko di jalan," lanjut Mohan.
Signaling sebagai sistem yang lebih luas mencakup brake lamp, lampu hazard, hingga lampu mundur. Brake lamp menyala saat pengemudi menginjak rem — sinyal bagi kendaraan di belakang agar ikut bersiap berhenti. Lampu hazard diaktifkan dalam kondisi darurat sebagai tanda bahwa kendaraan sedang dalam situasi tidak normal. Sementara lampu mundur memberi tahu pengemudi lain bahwa mobil akan bergerak ke belakang.
Semua sistem ini perlu dicek secara berkala. Pastikan setiap lampu menyala terang, tidak redup, dan kondisi mika tetap jernih. Pemeriksaan ringan seperti ini mudah dilakukan sendiri, tapi dampaknya besar terhadap visibilitas dan keselamatan — terutama saat menempuh perjalanan jauh melewati jalur minim penerangan.
![]() |
| Pemeriksaan rutin sistem penerangan di bengkel Astra Peugeot jadi langkah penting untuk memastikan head lamp, indicator, dan signaling berfungsi optimal demi keselamatan berkendara |
Head lamp atau lampu utama adalah yang paling familiar, tapi paling sering disalahgunakan. Lampu ini terdiri dari dua mode: low beam untuk kondisi lalu lintas normal, dan high beam untuk menembus jalan gelap tanpa kendaraan dari arah berlawanan. Masalahnya, banyak pengemudi yang asal nyalakan high beam di jalan ramai — dan itu sama saja menyilaukan mata pengemudi lain.
Lain lagi soal indicator alias lampu sein. Fungsinya bukan dekorasi, melainkan penanda arah yang wajib dinyalakan sebelum belok, pindah jalur, atau menyalip. Sayangnya, budaya "sein belakangan" masih subur di jalanan Indonesia. Padahal lampu sein adalah bentuk komunikasi visual paling dasar yang menjaga pengemudi lain tetap waspada dan antisipatif.
"Setiap lampu memiliki peran yang berbeda, tidak hanya untuk membantu pengemudi melihat, tetapi juga untuk memberikan informasi kepada pengguna jalan lain. Penggunaan lampu pada mobil yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko di jalan," lanjut Mohan.
Signaling sebagai sistem yang lebih luas mencakup brake lamp, lampu hazard, hingga lampu mundur. Brake lamp menyala saat pengemudi menginjak rem — sinyal bagi kendaraan di belakang agar ikut bersiap berhenti. Lampu hazard diaktifkan dalam kondisi darurat sebagai tanda bahwa kendaraan sedang dalam situasi tidak normal. Sementara lampu mundur memberi tahu pengemudi lain bahwa mobil akan bergerak ke belakang.
Semua sistem ini perlu dicek secara berkala. Pastikan setiap lampu menyala terang, tidak redup, dan kondisi mika tetap jernih. Pemeriksaan ringan seperti ini mudah dilakukan sendiri, tapi dampaknya besar terhadap visibilitas dan keselamatan — terutama saat menempuh perjalanan jauh melewati jalur minim penerangan.




