Nissan menunjukkan bagaimana kendaraan listrik mampu melawan peningkatan polusi udara

Nissan


Otojatim - Di Asia dan Oseania, sekitar empat miliar orang – 92 persen dari populasi Asia dan Pasifik terpapar polusi udara dengan tingkat yang dapat menimbulkan risiko kesehatan signifikan. Hal ini semakin jelas dengan peluncuran world’s largest real-time air quality data bank pada bulan Februari 2020 di bawah Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), yang menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Asia dan Oseania masih berada dalam tingkat kualitas udara yang ‘tidak sehat’. Faktanya, sekarang polusi udara berada pada peringkat lima penyebab utama kematian di seluruh dunia diantara semua risiko kesehatan, serta merupakan penyebab dari sembilan persen kematian.

Sejalan dengan komitmen untuk mengurangi emisi CO2, Nissan selaku pembuat kendaraan listrik produksi massal pertama di dunia4, Nissan LEAF, telah mengumpulkan analisis dampak dari kendaraan listrik ini di seluruh dunia sejak debutnya pada tahun 2010. Pada saat yang sama, terdapat data tepercaya yang menunjukkan bagaimana mobilitas listrik dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi tingkat polusi udara:

1. Hanya dengan satu kendaraan listrik (EV) mampu mengurangi 4,6 metrik ton5 gas rumah kaca setiap tahun, setara dengan menanam 209 pohon6.
2. Sampai saat ini, 460.000+ Pemilik Nissan LEAF Secara Global telah berkontribusi pada:

• Menghindari emisi CO2 sekitar 2,1 juta metrik ton. Untuk memproses CO2 sebanyak ini dalam satu tahun, diperlukan lebih dari 81 juta pohon.
• Pemilik LEAF menempuh lebih dari 13 miliar kilometer dengan bebas emisi7 – setara dengan jarak mengemudi ke bulan sebanyak lebih dari 33.800 kali!8
Hingga tahun 2030, dibutuhkan pengurangan 55% emisi CO2 untuk menghentikan pemanasan global9. Tahun 2020 akan menjadi tahun perubahan bagi para pelanggan dalam menentukan pilihan, seperti beralih ke EV, untuk memberikan dampak langsung pada permasalahan polusi udara.
LihatTutupKomentar