Kenali Kadar Emosi Mengemudi Anda. Pahami Hal ini Agar Bisa Selamatkan Nyawa (2/3)

Emosi seseorang berpengaruh besar terhadap kejadian baku hantam di jalanan akibat tak mau saling mengalah. Begitu menurut Katarina Ira Puspita, M.Psi, seorang psikolog yang berpraktek di Kasandra & Associates, Jakarta. Juga sebagai dosen di Jurusan Psikologi Universitas Bina Nusantara. (Dalam wawancara pada 2015)


Baca artikel sebelumnya:

Kelelahan, stress dan emosi memiliki efek yang serius dalam mengemudi, karena dapat mengakibatkan gangguan yang tidak disadari. Jika sedang cemas, marah, tertekan atau bahkan ketika merasa sangat senang, skill dibalik setir bisa menurun. Seperti saat mengemudi sambil menerima panggilan telepon atau setelah mengkonsumsi minuman beralkohol.
Bertengkar di jalan
Adu jotos tak bisa dihindari bila emosi mengalahkan akal sehat. Foto:Istimewa
Agresivitas dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemarahan berhubungan dengan kecepatan saat mengemudi. Individu yang sedang dalam keadaan tensi tinggi cenderung suka ngebut dibandingkan orang yang lebih tenang. Hal ini tentu berdampak pada keselamatan di jalan raya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi emosional pengemudi.


Faktor Internal:
  1. Usia: Pengemudi berusia muda (18-35 tahun) cenderung lebih mudah untuk marah dan terpancing emosinya.
  2. Jenis kelamin: Laki-laki cenderung lebih emosional ketika mengemudi dibandingkan perempuan.
  3. Tipe kepribadian dari individu itu sendiri, apakah ia tergolong orang yang sulit mengontrol kemarahan atau tidak.
  4. Suka terburu-buru.

Faktor Eksternal:
  1. Macet, situasi jalanan yang macet membuat individu menjadi kurang sabar sehingga emosinya mudah terpancing.
  2. Cuaca: Cuaca yang panas biasanya lebih mudah memancing emosi pengemudi.
  3. Kelelahan dan stres.
  4. Penumpang lain, jika sedang bersama seseorang yang disegani, misalnya orangtua, pastilah kita akan lebih berusaha mengontrol emosi, dibandingkan ketika mengendarai mobil bersama teman.
Cara mengatasi emosi negatif yang sedang tinggi:
  1. Kenali kapan kondisi emosi Anda kurang baik. Jika Anda merasa kesal atau marah ketika mengemudi, cobalah pinggirkan mobil terlebih dahulu ke tepi jalan. Ambil waktu beberapa menit untuk menarik nafas dalam-dalam dan relaks.
  2. Jika emosi yang dirasakan terlalu kuat dan ada teman untuk menggantikan mengemudi, sebaiknya biarkan orang lain yang mengemudikan kendaraan.
  3. Dengarkan musik yang santai (medium beat) untuk membantu suasana hati menjadi lebih baik. Jangan mendengarkan musik yang bertempo cepat dan keras, karena dapat memacu kita untuk mengemudi secara cepat.
  4. Jika secara tidak sengaja melakukan kesalahan yang membuat pengemudi lain marah atau kesal, tunjukkan ekpresi penyesalan, seperti mengatupkan tangan sambil mengatakan maaf.
Share on Google Plus

About Handi Cahyono

Seorang enthusiast dan jurnalis di bidang otomotif dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Apapun yang mempunyai ban, kecuali troli belanja, akan menjadi perhatiannya. Mulai diecast hingga doubledecker.

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Berita Lain

close
Promo Hyundai Bunga 0 Persen