Selain Gelontor Rp9,3 Trilyun, Inilah Strategi Wuling Gaet Konsumen Otomotif Indonesia

wuling indonesia
Wuling telah memproduksi 2,13 juta unit di China pada 2016

JAKARTA, Otojatim.com - Indonesia yang masuk ke dalam urutan keempat populasi terbesar di dunia dengan jumlah penduduk sekitar 260 juta jiwa, tentu ini menjadi pasar sangat potensial bagi para produsen otomotif dunia tidak terkecuali pemain besar asal Tiongkok, perusahaan patungan SAIC-GM-Wuling (SGMW).

Dalam survei yang pernah dilakukan, didapatkan data bahwa dari 1000 orang di Indonesia baru 88 orang yang memiliki mobil. Ini juga yang membuat Wuling semakin mantap menapaki pasar otomotif di Indonesia.
Tahun ini, melalui tangan SGMW Motors Indonesia sebagai Agen Pemegang Merek (APM) Wuling di Tanah Air, akan memulai eksistensinya dengan mengantongi rencana besar, tidak saja peluncuran sejumlah model baru mulai kuartal III nanti, tapi juga pengoperasian jalur produksi seluas 60 hektare, serta kesiapan lainnya dengan menghabiskan dana investasi sebesar US$700 juta atau sekitar Rp9,3 Trilyun.

Baca: Bawa Investasi Rp9 Trilyun, Pemain Baru Siap Getarkan Pasar MPV Tanah Air 

Dengan demikian, menyambut komitmen kuat Wuling Motor Indonesia tersebut, Forum Wartawan Otomotif Indonesia (FORWOT) menggelar diskusi pintar bertajuk "Selamat Datang Wuling Indonesia", di Jakarta Selatan, Jumat (21/4). Menghadirkan pembicara Bebin Djuana selaku pengamat otomotif Indonesia dan Dian Asmahani sebagai Brand Manager PT SGMW Motor Indonesia.

Dari pemaparan pertama yang disampaikan oleh perwakilan PT SGMW Motor Indonesia, Dian Asmahani menjelaskan, bahwa Wuling melihat pasar otomotif Indonesia sangat potensial, karena secara sosial dan ekonominya terus bertumbuh dan menjadikan peluang itu sangat baik.

Diskusi Pintar Forwot
Diskusi pintar Forwot Indonesia 2017 mengenai kesiapan Wuling

Strategi Wuling Indonesia

Selanjutnya, untuk mencapai target yang diharapkan, maka dikatakan Dian, Wuling saat ini sudah menyiapkan segala strateginya melalui produk yang sudah disiapkan sesuai dengan apa yang dibutuhkan konsumen Indonesia, khususnya di segmen low MPV yang menjadi segmen pertama yang bakal digarap Wuling.

Selain itu, lanjut Dian, Wuling juga telah menargetkan dalam tahun ini bisa membangun 50 unit jaringan penjualan, perbaikan, dan suku cadang di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, Wuling sudah melakukan kerjasama dengan sejumlah perusahaan pembiayaan otomotif dalam membuat skema terbaik ketika konsumen nanti ingin mendapatkan produk terbaik Wuling.

"Langkah ini memang bukan main-main, komitmen Wuling adalah jangka panjang, jadi tidak saja sekedar jualan di Indonesia tapi juga langkah secara holistik dalam ikut membangun industri otomotif di Indonesia, lewat pembangunan pabrik seluas 60 hektare," tegas Dian.

Sebagai infromasi tambahan, Dian menjelaskan, komitmen panjang Wuling di Indonesia juga bisa dilihat dari target kandungan lokal yang bakal diserap setiap produk Wuling nantinya sebesar 50%, dengan sudah bekerjasama ke 20 vendor lokal. Ini akan terus bertambah sesuai keberlanjutan eksistensi Wuling di Indonesia. Termasuk lapangan tenaga kerja lokal yang diserap sebanyak 3000 pekerja.

Wuling juga telah menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan memberangkatkan sebanyak 130 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ke pusat studi SGMW di China, dan diharapkan sekembalinya ke Tanah Air sudah siap bekerja di SGMW Motor Indonesia.

Langkah yang Harus Dipenuhi

Menanggapi komitmen panjang Wuling Motor Indonesia itu, Bebin Djuana sebagai pembicara kedua menyampaikan, menyambut positif langkah besar Wuling ini. 

Kendati berbagai rintangan yang harus dihadapi, apalagi jamak diketahui bahwa pasar otomotif Indonesia tidak lepas dari cengkaraman produsen Jepang, Bebin menyambut optimis langkah Wuling, dengan berujar "Sulit tapi bukan tidak mungkin."

Kemudian Bebin menyampaikan, ada beberapa hal yang perlu dipenuhi Wuling jika ingin mengambil hati konsumen Indonesia, antara lain; program aktivitas marketing yang agresif sangat diperlukan. 

Selanjutnya, kesiapan jaringan aftersales adalah hal penting lain karena menjadi pertimbangan utama bagi konsumen di Indonesia. Terang bebin, jika mengaca ke beberapa produk asal China yang sudah lebih dulu berkiprah di Indonesia, kekurangan mereka adalah tidak siapnya jaringan aftersales.

Perhatian lain konsumen Indonesia adalah inovasi produk itu sendiri. Sejauh mana produk itu bisa memuaskan keinginan konsumen terkini, yakni soal kemajuan desain.

"Karakter masyarakat Indonesia itu lebih dulu melihat sisi style. Mereka (konsumen) saat ini sudah sangat update dengan perkembangan style atau desain terkini sebuah mobil," kata Bebin.

Lebih lanjut Bebin mencontohkan, ketika di Eropa sudah ada lampu LED dan fitur Daytime Running Light (DRL), saat itu Hyundai mencoba pertama kali mengaplikasikannya ke produk mereka di Indonesia dan itu ternyata cukup berhasil memikaat konsumen. "Jadi, penampilan ter-update itu penting."

Bagi Bebin, karakter konsumen Indonesia itu memang cukup unik dibanding masyarakat Eropa yang dalam perkembangannya, saat memilih mobil mereka lebih memperhitungkan nilai kepraktisan dan fungsi sebagai poin utama.

Terakhir adalah harga. Menurut Bebin, rasionalitas menentukan harga terutama di segmen yang sangat kompetitif ini (MPV), Wuling jangan sampai salah langkah.

"Soal harga ini memang sangat sensitif di Indonesia. Saya contohkan saat di Hyundai dulu, ketika mematok harga Sonata lebih tinggi dari Camry akhirnya jualan mandek, padahal secara produk sangat bagus," pungkas Bebin. [FORWOT]
Share on Google Plus

About Handi Cahyono

Seorang enthusiast dan jurnalis di bidang otomotif dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Apapun yang mempunyai ban, kecuali troli belanja, akan menjadi perhatiannya. Mulai diecast hingga doubledecker.

Cari Berita Lain

close
Promo Hyundai Bunga 0 Persen