Indonesia Juara Ketiga di Nissan Gran Turismo Academy 2016

Berangkat dari main game, para gamer ini merasakan balap sungguhan di Nissan GT Academy

Silverstone, Otojatim.com - Main game memang mengasyikkan, akan tetapi jika game yang dimainkan adalah balapan mungkin akan berbeda dari biasanya karena mungkin Anda akan diterima menjadi pebalap beneran. Itulah yang diterapkan Sony dan Polyphony Digital dengan memasarkan game balap Gran Turismo. 

Tidak sembarang game balap memang karena poin utama game ini adalah simulasi keadaan balap sebenarnya.

Guna menjaring minat pebalap muda, Sony bersama Nissan menggelar GT Academy. Program ini diciptakan untuk mengembangkan para gamer sekaligus pebalap muda yang ingin menjadi pebalap profesional dunia.

Sejak 2015, Indonesia terpilih menjadi salah satu pesertanya dan saat itu calon-calon pebalapnya belum lolos ke babak final. Akan tetapi, pada gelaran tahun ini memang lebih berat dari sebelum-sebelumnya karena para calon pebalap Nissan Motorsport (NISMO) ini digembleng wajib militer.

Ini dilakukan untuk mengembangkan kerjasama antar pebalap dan menguatkan fisik ketika membalap di Nissan Fairlady dan GTR yang disediakan Nismo. "Berat dan amat melelahkan. Di bagian ini tidak semata fisik melainkan juga dilihat kekompakan tim," cerita Catra Felder yang berhasil tembus 2 besar Nissan GT Academy tahun ini.
"Memang ada perbedaan di International Race Camp tahun ini di mana metode seleksi benar-benar mengejutkan seperti latihan fisik di barak militer Inggris, menjajal GT-R di Pendine Sand Beach, Wales serta balap stock car dan Nissan 370Z dengan format balap ketahanan," cerita Raditya Indera via Nissan.

Raditya  sendiri juga lolos ke babak final GT Academy musim ini dan akan bergabung dengan Catra pada babak final.

Pada tanggal 24 Oktober, dilakukan balap demoltion derby dengan menggunakan Nissan Micra. Catra dan Raditya berhasil finish keempat di balapan itu sehingga untuk balapan Fairlady Race (OMR Nissan Fairlady) keesokan harinya (25/10),  dimana duo pebalap Indonesia ini akan start keempat.

Balapan di sirkuit Silverstone International selama 16 lap memang lumayan berat karena mengadopsi balap ketahanan yang mengharuskan pergantian pebalap di tengah lomba. Dengan susah payah, Catra dan Raditya berhasil finish ketiga di perlombaan akhir ini. Sedangkan untuk pemuncak adalah tim Meksiko dan posisi kedua ditempati tim Afrika Selatan.
Hingga pada akhirnya, Raditya Indera juga berhasil menjadi peserta terbaik dari GT Academy Indonesia dengan menyisihkan Catra Felder, M. Pandu Wicaksono, Dwinanto, Boen Rico dan M. Faiz Rayyan.

"Pengalaman luar biasa. Apalagi main game dengan balapan sesungguhnya berbeda sekali. Senang rasanya bisa meraskan langsung bagaimana berada di posisi sebagai pembalap," pungkas Raditya Indera.

Raditya sendiri merasa senang bisa menjadi juara Nissan GT Academy Indonesia. Pebalap racing simulator di komunitas Sim Racing Indonesia ini tidak menduga bisa lolos menjadi pebalap sungguhan. Sukses bagi para finalis dan semoga para calon pebalap ini bisa membalap di kejuaraan balap sesungguhnya.
Share on Google Plus

About Handi Cahyono

Seorang enthusiast dan jurnalis di bidang otomotif dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Apapun yang mempunyai ban, kecuali troli belanja, akan menjadi perhatiannya. Mulai diecast hingga doubledecker.

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Berita Lain

close
Promo Hyundai Bunga 0 Persen