Jeep Lover: Awalnya Benci, Kini Jatuh Hati Tiap Hari

Mukanya cemberut. Matanya dipicingkan  Bibirnya monyong ke depan. Begitulah mimiknya, setiap saya menjemputnya dengan Jeep.

Lantas, ia pun nyerocos dan mempertanyakan kenapa saya suka Jeep. "Padahal suspensinya keras, bensin boros dan tak bisa kencang. Dinaikin gak enak sama sekali, panas dan modelnya juga jelek," ujarnya bertubi-tubi.

Saya tersenyum saja. Sulit memang, menjelaskan pada kawan satu ini. Dan seperti juga orang lain, saya pun sulit pula mendeskripsi tentang hobi. Awalnya saya juga tak suka Jeep atau mobil berpengerak empat roda yang lainnya. Bahkan mungkin membencinya.
Terlebih keluarga kami, tak punya tradisi memiliki jip. Seperti tutur bapak. Jip itu hanya dibeli instansi pemerintah atau tentara dan polisi. Sebagai mobil dinas, jip dipakai bergantian banyak orang. Makanya, dipilih yang awet dan badak.

Hingga suatu ketika, saya meliput aktivitas penggemar Willys yang dikomandani oleh Djaron. Dari rumahnya di Pejaten itu, saya diajak oleh bapaknya Lody Francis Natasha itu, ber-offroad ria di kawasan Taman Mini. Lumpur di sawah dilibasnya.

Sungai disebranginya. Jalanan berbatu enak saja disikatnya. Willys tahun 1948 bermesin water-proof yang semula saya remehkan, betul-betul menunjukkan kesaktiannya.

Kekaguman saya kian menebal, manakala diundang pihak Chrysler ke Amerika untuk mencoba Jeep Wrangler di tahun 1995. Di Rubicon Trail, Lake Tahoe, Nevada, Wrangler enteng saja melibas jalur berbatu segede-gede mobil. Lalu dijamu Rod Hall, legenda off road racing Amerika yang pernah menjuarai Paris Dakar di kelas jip dan juara umum Baja Rally itu. Saya diajak ngebut dengan Hummer buah modifikasinya.

 
Anda percaya? Jalanan gravel berbatu disikatnya dengan kencang oleh Chad Hall, anak sulungnya. Di dalam Hummer, saya bergeming. Tak ada guncangan sedikit pun. Saya serasa naik limousine, yang kemarin mengantarkan saya belanja ke Reno.

Di situlah titik baliknya. Saya yang semula membenci jip, jadi jatuh hati. Dan begitu sampai di Jakarta, saya membeli Cherokee bekas, yang sering saya pakai country road sekeluarga. Maka sejak itu, keseharian saya selalu diwarnai jip. Ganti-ganti berbagai merk tapi pilihan utama tetap mobil penggerak empat roda.

Hingga kini saya pernah empat kali merawat Cherokee. Tiga kali ganti-ganti Toyota FJ, tiga kali membesut CJ termasuk CJ8 Scrambler, sekali punya Suzuki Jimny, sekali memelihara Wrangler dan kini saya membesut Jeep TJ.
Memang saya pernah 'selingkuh' membeli jenis mobil lain. Ke luar kota selalu pakai Innova diesel bawaan istri. Kadang cheating dengan Jazz anak saya. Tapi, seperti saya bilang, keseharian saya selalu bersama jip.
Bagi saya, jip adalah cinta sejati. Barangkali seperti saya mencintai istri begitulah. Saya menerima kelebihan sekaligus kekurangannya. Pun tatkala kami beranjak tua. Sakit-sakitan, minum obat rutin, badan sering pegal dan tidak lagi fit adalah bagian dari warna kehidupan kami. Toh saya menerimanya, seperti tak ada beban.

Bukankah, pasangan kita telah memberi begitu banyak kebahagiaan? Menghadiahi dua anak, buah dari cinta kami. Bahkan seorang cucu yang lucu.

Demikianlah cinta saya pada jip. Saya merawatnya, seperti ia punya nyawa. Membawanya ke bengkel, jika ia sedang rewel. Ada bunyi sedikit saja, telinga saya sudah terganggu.

Sering saya memandikannya. Padahal tak pernah sekalipun saya mencuci mobil yang lain. Memandanginya jika sore hari kalau saya ke depan rumah. Ketika ke luar kota, rindu saya pada jip sama seperti kangen saya pada cucu. Lantas buru-buru mencari alasan agar bisa segera mengendarainya.

Aneh? Memang. Keluarga saya pun tak bisa memahaminya. Tapi cobalah Anda bertanya pada penggemar jip, alasan yang saya kemukakan di atas pastilah dianggap wajar. Saya garansi, mereka pun pasti memiliki jawaban seperti itu.


Jip memang bukan sekadar mobil. Ia bukan alat transportasi semata. Lebih dari itu, hubungan antara pemilik dengan jipnya adalah hubungan yang timbal balik. Dan hubungan itu, didasari rasa.

Berlebihan-kah jika saya bilang jip adalah cinta sejati saya? Yang telah memberikan kebahagiaan pada saya seperti yang saya sebut di atas.

Maka, di tengah kemacetan Jakarta, saya menikmati panasnya udara lantaran hardtop TJ yang tak dilapisi anti-panas itu. Saya berkeringat, tapi kulit saya menjadi sehat dan lembab. Saya punya sejumlah alasan kuat untuk membiarkan wajah di samping saya tetap cemberut.



Agus Langgeng, founder Tabloid Otomotif.
 Artikel yang sama pernah dimuat di Majalah Jip atas permintaan Pemimpin Redaksinya
Share on Google Plus

About Handi Cahyono

Seorang enthusiast dan jurnalis di bidang otomotif dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Apapun yang mempunyai ban, kecuali troli belanja, akan menjadi perhatiannya. Mulai diecast hingga doubledecker.

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Berita Lain

close
Promo Hyundai Bunga 0 Persen