Perilaku Pemotor Indonesia di Mata Media Asing

pemotor indonesia
Menyerobot dan lawan arus, pemandangan setiap hari. (Kompas)

Tak bisa dipungkiri, sepeda motor adalah solusi transportasi yang paling mudah dan terjangkau oleh segala lapisan masyarakat. Data 2014, jumlah motor plat B mencapai 13 juta unit. Itu artinya belum termasuk jumlah motor pendatang yang mengadu nasib di Jakarta.

Sepeda motor kerap dituding sebagai biang kemacetan lalu-lintas ibukota. Saling serobot dan melawan arus menjadi keseharian yang membuat jalanan semakin semrawut. Tanpa disadari perilaku pengendara motor seperti ini menjadi perhatian orang asing yang tinggal di Indonesia.
Mereka terkejut melihat pola pemotor yang berbeda jauh dengan negeri asal mereka. Robert Brooks, seorang warga AS menuliskan pengalamannya berjudul Crazy World of Two Wheels Across Pacific di halaman motorcyclistonline.com.

“Beberapa waktu lalu, saya dan istri mengunjungi Indonesia selama 15 hari. Saya kaget dengan kebiasaan pemotor di sana. Mereka terus menyumbat jalan yang sudah penuh oleh ribuan pengendara. Ada yang melompati pembatas jalan, melawan arus, menerobos garis dan tetap melaju walaupun lampu merah," tuturnya.

mudik pakai motor
(5ocial.wordpress)
"Kebanyakan pengendara sepeda motor memang mengenakan helm, tapi tidak dengan pemboncengnya. Seringkali satu motor dinaiki sekeluarga dengan posisi anak-anak duduk di antara orang tua, bahkan hingga 4-5 orang dalam satu motor tanpa helm dan pengaman lainnya,” ungkap Robert.

"Pernah seorang teman meminjamkan sepeda motornya pada saya untuk berkeliling Jakarta. Karena tidak memiliki SIM Internasional maka saya tak bisa menyusuri kota ini terlalu jauh. Setelah puas naik motor saya menyadari bahwa memang inilah alat transportasi yang sempurna di tengah kota yang selalu macet itu."

"Ironis apa yang pernah saya lihat di Jepang sangat sepi sekali sepeda motor. Sebagai negara pemilik merek motor paling top dunia seperti Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki justru populasinya sangat sedikit di negaranya sendiri".

"Kebanyakan motor yang saya temukan di Indonesia adalah 250 cc kebawah. Ini sangat berbeda dengan Amerika dimana selain scooter, mesin 250 cc adalah ukuran terkecil."
Lain cerita dikatakan Andrew Hook, seorang warga Eropa, “Berkendara di Eropa adalah soal kecepatan, tidak ada motor dibawah 600 cc atau 98 hp. Di Autobahn kita bisa melaju dengan kecepatan rata-rata 200 km/h. Sedangkan untuk jalanan luar kota umumnya 160 km/h. Kebiasaan berlaku tertib di sana akan meminimalisir rasa takut saat memacu motor, karena memang hanya sedikit orang yang ugal-ugalan di jalan."

biker indonesia
(Tempo.co)
Seorang netizen asal Rusia juga menambahkan "Sejak sepeda motor membudaya di Indonesia, tidak ada orang yang berjalan kaki jauh, semuanya naik motor. Jika ada seseorang yang berjalan kaki 100 meter untuk berbelanja di warung terdekat, tetangga akan bertanya “Kemana sepeda motormu?”

Di Indonesia, banyak hal bisa dilakukan di atas motor. "Aku melihat bagaimana mereka tidur siang di atas sepeda motor, dan sepasang anak muda pacaran duduk di scooter,” tambahnya.
Share on Google Plus

About Meutia Ahri

Seorang enthusiast dan jurnalis di bidang otomotif dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Apapun yang mempunyai ban, kecuali troli belanja, akan menjadi perhatiannya. Mulai diecast hingga doubledecker.

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Berita Lain

close
Promo Hyundai Bunga 0 Persen